Tuesday, July 28, 2009

MEDITASI SURYA REDITE - FAJAR BARU BANYU PINARUH


Tanggal 1 Agustus 2009 adalah Hari Raya Hindu yaitu Saraswati dengan mengandung makna hari turunya anugrah spirit ilmu pengetahuan. Dengan makna inti pengejahwantahanan ilmu pengetahuan pada kehidupan ini maka setidaknya manusia khususnya yang berkeyakinan hindu harus mempunyai konsep bahwa ilmu pengetahuan adalah merupakan pintu kebahagiaan hidup yang paling hakiki, materialisme hanyalah sarana bukanlah tujuan pokok hidup.

Besoknya adalah hari banyupinaruh/penyucian diri yang biasanya dilakukan pengelukatan disumber air ataupunan dilaut, ini mengandung makna bahwa setelah anugrah ilmu pengetahuan turun maka jasad raga ini juga harus dibersihkan sebagai stana kesucian.

Idealisme baru dijaman ini , yaitu melaksanakan pembersihan dengan pengelukatan fajar surya dengan melakukan meditasi surya redite, ini mengandung makna bahwa alam yang didalamnya ada air sebagai pembersihan sebelumnya sudah tidak layak lagi karena sudah tercemar oleh kebiadaban manusia yang tidak mampu memelihara dan menjaganya, selanjutnya air tersebut sedang disimpan dalam wadah oleh para Dewa dan Bathara.

Matahari yang tak pernah tersentuh oleh manusia sekarang mengambil posisinya...untuk itu akan dilaksanakan meditasi surya redite dimulai tanggal 2 agustus 2009 ini dengan konsep dasar kembali kepenggalian meditasi leluhur 750 tahun yang lalu dengan tujuan membenahi alam semesta.

Wejangan pada saat melakukan meditasi surya berawal dari :
Dewa Ciwa : Disiplin dan Tangguh dalam segala kondisi
Hyang Budha : Cinta Kasih dan Welas Asih
Ibu Pertiwi : Eling dengan Asal muasal / leluhur
Dewa Surya : Anugrah zaman ini

Sikap Meditasi Surya Redite

Sikap sempurna
Konsentrasi kesatu titik
Pejamkan mata pelan - pelan
Tangan Cakupkan di dada
Buka mata pelan - pelan
Usapkan telapak tangan keseluruh tubuh


Semoga teranugrahi...Om Surya ya namo namah

CIWA BUDHA UNITY


Kesaya ikang papa...nehan ikang praya jana; Pada saat Sutasoma akan menduduki tahta,dimana beliau bingung untuk menentukan keadilan kepada rakyatnya,untuk itu beliau turun kemasyarakat dan merasakan derita dan papa rakyatnya.

Pegang teguhlah pada kebenaran yang abadi yaitu mampu menyatukan perbedaan dengan inti pokok kasih sayang ; om,swastiyaustu..assalam walaikum..haleluya dan amitaba dengan tidak ada batasan ruang dan waktu.

Debaran jantung hendaknya dirasakan oleh jiwa, maka dengan irama detak jantung yang ideal dan didengar oleh jiwa yang tulus, jiwa yang lemah akan berubah menjadi jiwa yang kuat..

Azas Sundaram ( rasa seni ) inilah jalan pokok agar dapat merasakan sebuah perbedaan dan mampu menyelami intinya...maka ciwa budha unity...Bhineka tunggal Ika

Thursday, July 23, 2009

SABDA AKHIR DJAMAN



PIKULMU BERAT
JASATMU RINGAN
WAJAHMU NAMPAK
KAKIMU TERIKAT
LENGANMU MELAMBAI - LAMBAI

Wednesday, July 22, 2009

KARMA DAN CARU


aktifitas manusia diatas dunia ini sangat berpengaruh terhadap perputaran alam ( Dewa dan Malaikat ) berserta isinya, termasuk posisi Tuhan didalam mengendalikan alam dan manusia. Tumbuh - tumbuhan adalah mahluk pertama dan paling sensitif didalam menerima rangsangan dari kejadian dan keanehan alam, dapat dilihat dari keadaan tumbuhan dalam kondisi kepekaannya, tetapi terkadang manusia sendiri tak pernah menanggapinya.

Peranan manusia dalam proses keseimbangan dengan alam sebenarnya bisa dilakukan dengan bekerjasama dengan binatang, dalam hal ini ketulusan seekor binatang agar dirinya dapat dijadikan kurban ( caru ) sesungguhnya dapat merubah sebuah bencana seperti kekeringan,paceklik begitupula sebaliknya banjir bandang dan gempa bumi. Ketulusan seekor binatang ini dapat diwujudkan dengan dia datang sendiri tanpa harus dikejar - kejar bahkan diperangkap terlebih dahulu, baru selanjutnya dijadikan kurban.

Aktifitas manusia didalam hubungannya dengan alam dan Tuhan inilah yang menjadi penentu perputaran alam yang ideal, manusialah sebenarnya menjadi poros utama alam ini karena tergantungnya alam terhadap aktifitas manusia sangat tinggi. Termasuk para Dewa dan Malaikatpun tanpa ritual suci dari manusia tidak akan dapat menjalankan perputaran roda alam dengan baik, terbukti dengan tugas manusia pada bulan purnama dan bulan mati ( tilem ).
Untuk itu seandainya manusia terhenti sejenak melakukan kegiatan yang bersifat keagamaan / ritual maka dapat dibayangkan keadaan alam ini seperti apa.
Dapat kami sebutkan jenis ritual yang dapat dilaksanakan oleh manusia seperti :
1. Bajaan / menyanyikan lagu - lagu pujian kepada Tuhan
2. Japam / Menyebut nama suci Tuhan
3. Upacara keagamaan / Upakara
4. Menyembah Tuhan /Bhakti
5. Pengendalian diri /Bhrata
6. Berkonsentrasi kepada Tuhan / Yoga

Maka dari itu janganlah sampai kita terhenti melakukan ritual - ritual tersebut diatas agar alam ini dapat berjalan sesuai dengan rotasinya.

Monday, July 20, 2009

BUDAKELING ...PANCANGAN TOMBAK AKHIR JAMAN


Membangun Citra Agung Persatuan Bangsa Indonesia melalui perjalanan suci ke Tatar Sunda dari Tepi Timur Budhakeling

BUDAKELING dharma di zaman Kali yang gelap ini, ia adalah cahaya terakhir dari dunia ini. Keberadaannya di ''muka'' (bahasa setempat: prarai) Gunung Agung-- gunung tertinggi di Bali, menyebabkan desa ini selalu berada di bawah pengawasan bayang-bayang kesadaran mahkota, makuta mandita.

Kesadaran agama yang melampaui Hindu-Budha menuju persatuan yang agung. Sutasoma menancapkan kaki-kakinya di pusaran desa trah Mpu Tantular pengarang Kakawin ''Bhinneka Tunggal Ika''. Sutasoma moyang Danghyang Astapaka penemu citra pertiwi Budakeling. Desa seharusnya bangkit dan mampu melakukan tugas besar bhawanamayiprajnya memimpin ritual kesadaran yang sebenar-benarnya.

Desa dijadikan kota satelit suci tempat pengembangan idealisme budaya adicita adistana, aksara merancang masa depan surgawi. Di desa adistana Budakeling inilah segera akan diadakan sebuah ritus baru Bhawanamayiprajnya, Tarpanadhatu, membangun pikiran murni. Selanjutnya, membaca Manggala dan teks Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular. Persembahan Mahawinduprasapta tujuh abad Bhinneka Tunggal Ika, penghormatan terhadap nilai sejarah eksistensi bangsa, Indonesia-Mahardika.

Kekuatan murni dari tradisi besar yang pernah dimiliki oleh bangsa ini dan yang masih terwariskan di Bali dengan spirit panunggalan siwa-budha-tatwa-- sinkritisme hindu-budha-awatara, sintesa sistematik baru spirit-ilmu-taksu. Sebuah perjalanan panjang lintasan spirit zaman telah semestinya menjadikan pulau ini sebagai surga dewata masa depan.

Tidak ada satupun kebudayaan di dunia ini yang lepas dari agama. Hasil kebudayaan adalah persembahan agama dan pertahanan hidup bangsa. Karya Sutasoma adalah persembahan Mahakawya Yogiswara Mpu Tantular terhadap bangsa dan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Sebuah karya besar yang dikarang oleh pujangga dari kerajaan Majapahit tujuh abad yang lalu, akan kembali digemakan dengan suara mahabajra, suara cakra pranawa, sapta ongkara, tujuh api, tujuh samadi. Memperingati mahawinduprasapta tujuh abad bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa. Siapapun di antara putra putri bangsa ini segera dapat mengetahui dan mengenang kembali betapa sebuah negara dibangun dengan falsafah panca sila-- dengan slogan ''Bhinneka Tunggal Ika'' oleh para pendiri the founding father Soekarno, Hatta, dan Mohamad Jamin, 60 tahun yang lalu.

Mpu Tantular adalah seorang di antara mahakawia penyair terbesar yang pernah dimiliki bangsa ini. Dari karyanya, Kakawin Sutasoma (Porusadasanta), mengalir benih-benih kesadaran muasal dan universal itu membangun citra agung persatuan seluruh bangsa Indonesia. Berbeda tetapi tetap satu Indonesia Merdeka.

Pasca merdeka semestinya Mahardika. Mungkin kita telah hampir lupa, bahwa kendaraan kesadaran yang dimiliki bangsa ini telah merasuki pintu hilir eutopia hiperealistik dan hegemoni baratisasi, yang didominasi adikuasa (dengan rujukan superpower Amerika). Namun ujung kesadaran utama milik bangsa sesungguhnya ada di pintu hulu adistana (superideal, merujuk prinsip kemurnian pribadi, mandala dharma, dan atau mandala-mandala desa). Sebagai wujud kuasa surgawi-- Ketuhanan Yang Maha Esa sebagaimana tersurat butir pertama Pancasila. Jika demikian betapapun nilai-nilai keutamaan bangsa itu tak pernah akan tercampakkan sedemikian rupa.

Momentum naramangsa pramangsa zaman kali ini sebagai perlambang-- manusia pemakan atau sebaliknya pemakan manusia sesungguhnya menantang kita untuk berpikir, merenung, merefleksi sejarah masa lalu dan memproyeksikan ke depan. Segala kemampuan diperlukan untuk tranformasi dan transmisi nilai-nilai budaya yang bertumbuh terus dengan semangat pembaruan semesta (Ongkarapranawa). Hidup bhawanamaya adalah sebuah yadnya, persembahan demi kebaikan dan keharmonisan dunia dan akhirat.

Sedangkan, pemujaan (achara) adalah evolusi kesadaran yang bergerak dari pemujaan eksternal (lahiriah, eksoteris) menuju pemujaan yang lebih tinggi (internal, esoteris). Dari praktek keagamaan yang bergerak ke luar (nirwrttimarga) mengarah ke praktek pemujaan yang bergerak ke dalam (prawrttimarga).

Adakah kita telah melangkah menuju kemerdekaan yang mahardika? Mahawinduprasapta adalah sebuah ''bom waktu'' Pangutpati, hidup kembali, untuk manusia yang berkesadaran murni (bhawanamaya).

WEJANGAN KYAI TUNGGUL JAYA AMONG ROGO




" Marilah dalam melangkah di jalan kebenaran, kita menyatukan langkah. Membuka pikiran dan pendengaran, bagi manusia-manusia yg terpanggil kejalan kebenaran. Marilah kita mengheningkan diri sejenak untuk berintrospeksi : Sudah layakkah kita dalam memutuskan untuk kembali ?Apakah yg mendorong saya untuk memilih tujuan yang sekarang ini. Kemegahan ? Cari aman ? Kebenaran murni ? Atau APA !
Apakah karena gantharwa menjanjikan apa yg saya cari ?Ataukah justru karena saya tidak tahu apa yg dicari ?
Jawaban pertama yg muncul di hati kita tadi... adalah jawaban yg paling jujur.Yang mengerti... mengertilah !Manusia sebenarnya diciptakan untuk satu tujuan. Kita diciptakan dalam satu kesatuan. Tetapi mengapa kita menempuh jalan yg berbeda-beda ?Manusia diberi satu lentera, satu terang cahaya. Mengapa masih tidak tahu jalan. Apalagi yang harus dicari? Manusia sebenarnya diberi bekal, kenapa dibuang sia-sia. Bukannya bekal2tadi dipakai untuk kembali kepada-Nya. Mengapa kita hanya bermain-maindengan bekal2 yg kita miliki? Sekarang ini adalah masa koreksi terhadap apa yg kita jalani. Karena kita akan menjalani masa-masa dimana kita harus memilih satu pilihan. Pilihan di tahun ini tak bisa ditolak, mau tak mau harus diambil. Bilapilihan yg diambil adalah pilihan yg benar, manusia itu akan menjadi anak-anak yg mendahului zaman. Tetapi bila yg diambil adalah pilihan yg salah, sesungguhnya tak akan lagi ada kesempatan seperti ini dalam waktu dekat.
Seperti wejangan Kyai Ganjel tadi tentang pengertian sikap seseorang sebagai reaktor positif, orang itu tidak menderita dalam menanggung beban (pengorbanan) karena bertindak didasari cinta. Biarkanlahbila orang-orang lain merasa kasihan dengan apa yg kita tanggung. Janganlah mengasihani diri sendiri. Menjadi manusia Jawa bukanlah menjadi manusia yg cengeng. Kita sebagai Jawa bukanlah orang yg lemah, yg menganggap selalu dikasihi. Lebih baik orang-orang lain merasa kasihan pada diri kita daripada kita yg merasa kasihan pada diri sendiri.
Karena apa yang sesungguhnya perlu dikasihani pada orang Jawa? Orang Jawa itu berkelimpahan.Berkelimpahan dalam kekuasaan dan kesederhanaan... bukan dalam kesombongan. Bukan berkelimpahan dalam kebodohan. Bukan berkelimpahandalam ketakutan.Kita diharuskan berani mengatakan bahwa kita adalah orang Jawa dengan kaweruh jawa yg sejati... dengan taruhannya nyawa kita. Peranan yg akan kita emban bukanlah dalam kelompok, melainkan masing2 kita menjadi garam di lingkungannya. Setiap pribadi musti mempunyai pengaruh di lingkungannya. Tidak ada gunanya bila sama sekali tidak mempunyai pengaruhbagi lingkungannya.Ketahuilah ketakutan itu merupakan bentuk lain dariketidakmengertian/kebodohan. Apakah gantharwa berai menerima tanggungjawab untuk menyampaikan kawruh jawa yg sejati?
Menjadi orang Jawa tidak ada yg besar atau kecil, karena semuanyasama. Karena semuanya yg berperan adalah Gusti sendiri. Kita tidak akan pernah di-BESAR-kan atau di-KECIL-kan. Yang ada adalah kelimpahan sangGusti. Ketidakmampuan kita adalah kemampuan sang Gusti. Ketidakpandaiankita adalah kepandaian sang Gusti. Bentuk penawaran yang ada adalah menjalankan kawruh jawa yg sejatiatau menerima kelimpahan di luar itu. Menjadi Jawa adalah mampu melihatapa yg telah kita lakukan dan mampu melihat apa yg harus kita lakukan...atau juga apa yg tidak boleh untuk dilakukan. Jika belum mengetahui hal itu, apakah gunanya lahir kembali? Berarti tidak ada kelahiran kembali.
Tidak ada gunanya kita begitu banyak, tetapi tidak bisa menggarami apa ygharus digarami. Karena diantara seluruh umat manusia, hanya sedikit yg ingin kembali pada sang Gusti. Dari sedikit yg ingin kembali, hanya sedikit yg mengerti. Dari sedikit yg mengerti... hanya sedikit yg sampai. Kenyataannya manusia hanya mengerti sebatas dia sebagai manusia. Seperti sang Bima dan Dewa Ruci dalam cerita permenungan tadi. Tugas kita masing-masing adalah mencari Dewa Ruci kita sendiri-sendiri. Sesudah bertemu, tanyakanlah tugas kita apa yg harus dilakukan.Sesuatu sikap di alam manusia demikian juga halnya di alam Roh.
Ketidaksopanan sebagai manusia juga berarti ketidaksopanan sebagai Roh. Ketidakmampuan mendengar di alam manusia, berarti ketidakmengertian di alam Roh. Bahkan ketidaktahu-maluan di alam manusia juga berarti ketidakmampuan menerima rahmat di alam Roh. Di dalam pengertian Jawa tidak ada neraka... tidak ada hukuman. Yang ada adalah ketololan dan kebodohan karena kita tidak mengerti. Tidak ada tempat bagi manusia Jawa yg lemah atau tidak mengerti. Seperti telur-telur di sarang induk ayam. Waktunya untuk menetas lalu berkotek-kotek sepertiinduk ayam... dan mencari makanan bersama sang induk. Kemudian nantinyamenjadi induk bagi telur dan anak-anak ayam. Tidak ada lagi seturusnya berada dalam lindungan sarang atau induk ayam.
Telur yg tidak menetas akan dibuang. Keluarga gantharwa diberi kesempatan memilih. Apakah kita benar-benar akan berada di jalan ini atau keluar? Bulan-bulan inilah saat kita paling baik untuk merenung, melihat "kedalam". Selama ini di gantharwa kalian lebih banyak melihat "ke luar".S ekarang cobalah untuk melihat "ke dalam". Pakailah mata ketiga untuk bercermin, melihat pribadi kita sendiri. Pakailah suara hati untuk mendengarkan diri sendiri... mendengarkan DewaRuci kita masing-masing .Kalau sudah tahu dengan pasti kemana tujuan dan kemana harus melangkah...tentu tidak akan pernah ragu-ragu dalam mengajak orang lain mengikuti kita. Namun jika kita sendiri masih ragu, belum yakin dengan jalan kita...bagaimana kita bisa mantap mengajak orang-orang lain di jalan kita. Cobalah ukuran-ukuran yg sering kita pakai untuk mengukur orang lain, dipakai untuk mengukur diri sendiri. Pakailah ukuran-ukuran itu untuk mengukur diri kita sendiri.
Ada beberapa hal yg tidak mungkin disampaikan pada malam ini.Pengertian2 tentang kasampurnan, pengertian2 tertinggi kepada sangGusti sendiri, karena dengan pengertian2 ini...apa yang mati akan menjadi hidup,apa yang gelap menjadi terang,kawula akan bertemu dengan Gusti,bahkan kawula menjadi Gusti...dalam kemanunggalan Kawula lan Gusti.
"Ttd Kyai Tunggul Jaya Among Raga

MISTERI SANG HYANG WENANG ( SEMAR )

Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya
• Bebadra = Membangun sarana dari dasar
• Naya = Nayaka = Utusan mangrasul
Artinya : Mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia

Javanologi : Semar = Haseming samar-samar
Harafiah : Sang Penuntun Makna Kehidupan
tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tunggal”. Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan mutlak serta sekaligus simbol keilmuan yang netral namun simpatik”.

Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang, dempel = keteguhan jiwa).
Rambut semar “kuncung” (jarwadasa/pribahasa jawa kuno)
maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan.

Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi.

Semar barjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ), yang maha pengasih serta penyayang umat”.
Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia), agar memayuhayuning bawono : menegakan keadilan dan kebenaran di bumi.

MAYA adalah sebuah cahaya hitam. Cahaya hitam tersebut untuk menyamarkan segala sesuatu.
Yang ada itu sesungguhnya tidak ada.
Yang sesungguhnya ada, ternyata bukan.
Yang bukan dikira iya.
Yang wanter (bersemangat) hatinya, hilang kewanterane (semangatnya), sebab takut kalau keliru.
Maya, atau Ismaya, cahaya hitam, juga disebut SEMAR artinya tersamar, atau tidak jelas.

Di dalam cerita pewayangan, Semar adalah putra Sang Hyang Wisesa, ia diberi anugerah mustika manik astagina, yang mempunyai 8 daya, yaitu:
1. tidak pernah lapar
2. tidak pernah mengantuk
3. tidak pernah jatuh cinta
4. tidak pernah bersedih
5. tidak pernah merasa capek
6. tidak pernah menderita sakit
7. tidak pernah kepanasan
8. tidak pernah kedinginan

Kedelapan daya tersebut diikat pada rambut yang ada di ubun-ubun atau kuncung. Semar atau Ismaya, diberi beberapa gelar yaitu; Batara Semar, Batara Ismaya, Batara Iswara, Batara Samara, Sanghyang Jagad Wungku, Sanghyang Jatiwasesa, Sanghyang Suryakanta. Ia diperintahkan untuk menguasai alam Sunyaruri, atau alam kosong, tidak diperkenankan menguasi manusia di alam dunia.

Di alam Sunyaruri, Batara Semar dijodohkan dengan Dewi Sanggani putri dari Sanghyang Hening. Dari hasil perkawinan mereka, lahirlah sepuluh anak, yaitu: Batara Wungkuam atau Sanghyang Bongkokan, Batara Siwah, Batara Wrahaspati, Batara Yamadipati, Batara Surya, Batara Candra, Batara Kwera, Batara Tamburu, Batara Kamajaya dan Dewi Sarmanasiti.

Anak sulung yang bernama Batara Wungkuam atau Sanghyang Bongkokan mempunyai anak cebol, ipel-ipel dan berkulit hitam. Anak tersebut diberi nama Semarasanta dan diperintahkan turun di dunia, tinggal di padepokan Pujangkara. Semarasanta ditugaskan mengabdi kepada Resi Kanumanasa di Pertapaan Saptaarga.

Dikisahkan Munculnya Semarasanta di Pertapaan Saptaarga, diawali ketika Semarasanta dikejar oleh dua harimau, ia lari sampai ke Saptaarga dan ditolong oleh Resi Kanumanasa. Ke dua Harimau tersebut diruwat oleh Sang Resi dan ke duanya berubah menjadi bidadari yang cantik jelita. Yang tua bernama Dewi Kanestren dan yang muda bernama Dewi Retnawati.

Dewi Kanestren diperistri oleh Semarasanta dan Dewi Retnawati menjadi istri Resi Kanumanasa. Mulai saat itu Semarasanta mengabdi di Saptaarga dan diberi sebutan Janggan Semarsanta. Sebagai Pamong atau abdi, Janggan Semarasanta sangat setia kepada Bendara (tuan)nya.

Ia selalu menganjurkan untuk menjalani laku prihatin dengan berpantang, berdoa, mengurangi tidur dan bertapa, agar mencapai kemuliaan.
Banyak saran dan petuah hidup yang mengarah pada keutamaan dibisikan oleh tokoh ini. Sehingga hanya para Resi, Pendeta atau pun Ksatria yang kuat menjalani laku prihatin, mempunyai semangat pantang menyerah, rendah hati dan berperilaku mulia, yang kuat di emong oleh Janggan Semarasanta.

Dapat dikatakan bahwa Janggan Semarasanta merupakan rahmat yang tersembunyi. Siapa pun juga yang diikutinya, hidupnya akan mencapai puncak kesuksesan yang membawa kebahagiaqan abadi lahir batin.
Dalam catatan kisah pewayangan, ada tujuh orang yang kuat di emong oleh Janggan Semarasanta, yaitu; Resi Manumanasa sampai enam keturunannya, Sakri, Sekutrem, Palasara, Abiyasa, Pandudewanata dan sampai Arjuna.

Jika sedang marah kepada para Dewa, Janggan Semarasanta katitisan oleh eyangnya yaitu Batara Semar. Jika dilihat secara fisik, Semarasanta adalah seorang manusia cebol jelek dan hitam, namun sesungguhnya yang ada dibalik itu ia adalah pribadi dewa yang bernama Batara Semar atau Batara Ismaya.

Karena Batara Semar tidak diperbolehkan menguasai langsung alam dunia, maka ia memakai wadah Janggan Semarasanta sebagai media menitis (tinggal dan menyatu), sehingga akhirnya nama Semarasanta jarang disebut, ia lebih dikenal dengan nama Semar.

Seperti telah ditulis di atas, Semar atau Ismaya adalah penggambaran sesuatau yang tidak jelas tersamar.

Yang ada itu adalah Semarasanta, tetapi sesungguhnya Semarasanta tidak ada.Yang sesungguhnya ada adalah Batara Semar, namun ia bukan Batara Semar, ia adalah manusia berbadan cebol,berkulit hitam yang bernama Semarasanta.

Memang benar, ia adalah Semarasanta, tetapi yang diperbuat bukan semata-mata perbuatan Semarasanta.

PERJALANAN MENUJU MAJELIS LALUHUR



PERJALANAN SUCI :
SANGGAR PADEPOKAN RASMI SANCAYA

Pada tanggal 2 Juli 2009 kami berangkat dari tepi timur Pulau Bali;halaman pasraman meru lempuyang Karangasem menuju Padepokan Majelis Leluhur Lereng selatan Gunung Salak Bogor Jawa Barat;
Dengan menggenggam air suci titra lempuyang kami berhayun ke tatar sunda, diatas Gunung Bromo ( Brahma ) kami lewat hanya dengan ucapan astungkara panganjali kepadanya terus bergerak sampai melewati tanah jawi yang sedang merana duka mendalam dengan tetesan nanah perut mojokerto, kami hanya bisa mendengar tangisan itu..tak berdaya sekali, sesak, rintih...begitu malu dengan hawa yang menjijikan, "Kita tahu semua itu eyang,tapi gak dibolehkan aku yang yang bertindak"
Kita berjalan lagi, sejenak menengok kehamparan Gunung Lawu, begitu mantapnya topo seorang leluhur dengan senyumnya mengandung arti " tak tunggu yo nduk" , sampe ketemu nang tatar sunda"..., begitu pula beliau - beliau yang lain.

Kita tiba dipangkuan Maha Prabhu Siliwangi sebelum sang surya menampakkan diri / Matahari terbit, disambut dengan hawa harum semerbak ; seketika aku melirik dari mana sumber keharuman itu; tak kusangka arahnya datang dari pantat seorang mahatapa prabu siliwangi ( silit;pantat - wangi; harum ), oh.. begitu harumnya beliau, begitu kuatnya bertapa, sampai keluar bau harum dari bawah tapanya.
Kita membersihkan badan, berkumur serta merapikan pakaian kita lalu serentak duduk pada samadi masing - masing. Dengan diantar oleh pandita suci dihadapan beliau kita memohon anugrah serta menyampaikan pesan sungkem dari umat yang lupa akan keberadaan beliau khususnya ditanah jawi.
Diakhir samadi muncul wahyu sejati dari bhatara, beliau berpesan bahwa; " hati - hatilah melangkah, menyeberang, air akan menuju daratannya " dst .
Setelah selesai kita semua mohon ijin pamit menuju padepokan Majelis Leluhur yang berlokasi dibalik pertapaan Prabu Siliwangi Gunung Salak , sesampai kita disana disambur isak tangis bahagia oleh para warga disana seakan- akan bertemu saudara yang lama tak kunjung pulang. Kita dijamu dan membersihkan diri seperti rumah sendiri.
Akhirnya malam renunganpun mulai, yang juga dihadiri oleh aliansi bhinekatunggal ika, Komunitas penekun spiritual samiaji, warga Baduwi serta pinisepuh padepokan majelis leluhur Bogor.
Inti dari sarasehan renungan itu adalah;
1. Sabda Uyut Padepokan bahwa; Pancasila menjadi pengayom semua agama, hanya dengan
Pancasila kita bisa hidup rukun dan damai di Tanah Indonesia ini ( th 1578 - th
1978 ) 500 th Gomo Budhi.
2. Muncul wacana ; Kita orang indonesia yang beragama X, Bukan Agama X yang
berdomisili di Indonesia ( artinya berbeda ); aliansi bineka tunggal ika
3. Kesepakatan akan menguatkan budaya leluhur didalam menopang jati diri yang
bersumberkan agama masing - masing untuk dapat mengaktualisasikan nilai - nilai
dalam kehidupan sehari - hari.
4. Tanah Jawa memegang peranan penting dalam meniti jejak para leluhur demi
mewujudkan masyarakat indonesia kembali adil dan makmur ( Sabdo Palon Noyo
Genggong ; kita tidak akan miskin dikemudian hari, sesaji hanya mampu memindahkan
saja Bencana akan tetap terjadi)
5. Kidung Pancaila dari padepokan majelis leluhur ; " banyak orang pinter dari
manusia yang ngerti "

tak terasa Sang Surya muncul kembali, sarasehanpun selesai dengan pesan Dewi kWam In melalui raga Bunda Ratu Pertiwi ; Hati yang tulus,Tersenyumlah,Berderma/sedekah serta bersikap ramah pada semua mahluk.

Selanjutnya kita mohon ijin melanjutkan perjalanan menuju Eyang Sepuh Sundari (85th)di padepokannya.Kita disambut oleh beberapa juru kunci Gunung di Tanah Jawa. Disini kita hanya bersambut saja dengan rencana pasti melakukan perjalanan ritual di Gunung Lawu Jawa Tengah tahun ini.

Lalu kita melakukan ritual purwa daksina diJakarta yaitu Pura Halim / timur, Pura Cinere / selatan, Pura Tanggerang / barat, Pura segara celincing / Utara. Dengan membawa pesan bahwa seandainya ada yang mau memuja Tuhan dan leluhur diPura ini walaupun dengan cara dan pakaian yang berbeda karena sesungguhnya tujuan mereka adalah sama.

Demikianlah perjalanan suci ini, akhirnya kita pulang kembali ke Timur lagi/karangasem, dengan persiapan akan melakukan perjalanan lagi.

Semoga perjalanan ini dapat bermamfaat untuk kita semua.

Wednesday, July 15, 2009

KEBENARAN ADALAH GAIB




Bisa dibaca Kitab Veda ( saduran Rg Veda, Sama Veda,Yajur Veda dan Atharw Veda) ; Pedoman Hidup Praktis, hal 312 dijelaskan bahwa:Kebenaran itu adalah 'gaib'.
artinya sejauh pengetahuan yang kita gali tentang kebenaran ( pengetahuan ketuhanan ) bisa saja dilakukan,namun tetap kebenaran itu ada pada ruang ketuhanan yang bersifat gaib, agar kita sebagai manusia tetap menyisakan ruang dikepala kita untuk tempat tinggal Tuhan, ini menandakan betapa kecilnya kita dibandingkan dengan Tuhan.
Terbukanya tafsir Veda dimasa kini menimbulkan semakin banyaknya sampradaya, disamping menandakan semakin tingginya minat umat terhadap pengetahuan ketuhanan bahkan dapat dikatakan pertanda jaman spiritualitas. Baiknya diharapkan semakin banyaklah umat yang melakukan kebajikan dan keharmonisan alam, jaman spiritualitas ini menandakan betapa hausnya umat akan pengetahuan. Tanda - tanda seperti ini mestinya juga dikembangkan kembalinya lahir Dhang Acarya ( Wiku ) dimasing - masing komunitas ( padukuhan/padepokan ). Pola pendidikan yang diajarkan dipadukuhan/padepokan/pasraman adalah menganut sistem pendidikan integrasi antara penggemblengan fisik, pengisian pengetahuan alam serta filosophi kehidupan yang bijak ( Kawisesan - Kaweruhan - Kewicaksanaan ); Tatwam - Ciwam - Sundaram. Nantinya diharapkan akan melahirkan para sarjana yang sujana serta berswadarma artinya mereka akan mampu melakukan kewajiban yang selalu mengedepankan pada idealisme masing - masing seperti :
Guru /Brahmana yang suci adalah yang mampu memberikan pengetahuan filosophi kehidupan;
Birokrat/Ksatria yang membanggakan adalah kemampuan jiwa kenegarawanannya dan kemampuan mengatur kas negara dgn seadil - adilnya;
Usahawan/Waysia yang terpuji adalah yang rela menyumbangkan hartanya untuk kemanusiaan dan Agama;
Buruh/Sudra yang tangguh adalah mereka yang bekerja profesional dan setia pada perusahan tempat mereka bekerja;

KENAPA JUSTRU PENANAMAN NILAI - NILAI AGAMA SAAT INI JUSTRU BERTUMBUH KEMBANGNYA MUSIBAH DAN BENCANA DITANAH INI?
Pengetahuan Ketuhanan yang diperoleh dengan belajar agama secara akademis tidak mampu menerobos masalah Alam karena di pendidikan akademis hanyalah berdasarkan kurikulum semata artinya semakin cepat bisa menghafal sudah dianggap pintar dan terpelajar ( untuk kalangan tertentu inilah tokoh agama ). Sebaliknya yang ada pada pola pendidikan filosophi yang dikembangkan dipasraman/padukuhan/padepokan ; pola pendekatan pengetahuan alam Fisik ( brahmandapurana )dengan ditambah pengetahuan alam non fisik ( Wraspathi purana tatwa )menjadikan kita semua sadar tentang betapa gaibnya alam yang kita pijak saat ini, dengan mengetahui kegaibannya mestinya kita sadar akan bagaimana cara memelihara dan menghormati ibu pertiwi ini termasuk gunung, danau, laut, hutan dengan segala isinya.
Karenanya betapa tingginya pengetahuan agama yang dimiliki namun tidak melakukan penghormatan terhadap alam ini, sia -sialah pengetahuan itu.... karena alam ini sejatinya adalah tempat para l e l u h u r kita semua.
Hancurnya alam ini karena lupa akan leluhur yang menjadikan kita semua.

Semoga para leluhur selalu dalam sikap tapanya, mendoakan kita semua dalam keadaan baik.