Sunday, August 29, 2010

TRI LUHUR , Dharma Suci Roh


Aliran Kebatinan Perjalanan Tri Luhur
Organisasi Perjalanan Tri Luhur didirikan oleh seorang sesepuh bernama Toeloes Partosoewirjo pada hari Senin wage (malam Selasa Kliwon), tanggal 1 Oktober 1956 di Balai Desa Kober Purwokerto. Perjalanan Tri Luhur dari kata Perjalanan yaitu gerak perbuatan atau laku manusia. Tri artinya badan Jasmani, gerak rasa sejati dan guru sejati, luhur adalah sifat ketiga perjalanan. Maksud dibentuknya wadah tersebut untuk menampung semua kegiatan yang tujuannya untuk kesempurnaan kehiduan manusia lahir dan batin.
Toeloes Partosoewirjo dilahirkan di desa Cangkerep Lor Purworejo, Jawa Tengah, pada tanggal 30 April 1924. Pada usia 12 tahun ia telah mendengar dan tertarik hal-hal yang berkaitan dengan Ketuhanan. Kemudian muncul gagasan bagaimana caranya untuk mendekatkan diri pribadinya dengan Tuhan. Atas dorongan itu maka timbullah tekad untuk mengetahui persoalan-persoalan Ketuhanan dan menumbuhkan keyakinan bahwa Tuhan mempunyai kuasa menciptakan alam semesta beserta isinya. Akhirnya pada malam Jumat Kliwon tanggal 23 Mei 1954 pada jam 01.00 sewaktu Beliau sedang duduk menghadap ke utara mohon kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa dengan sikap tenang, pasrah secara totalitas dan berkeyakinan yang mantap bahwa Tuhan itu Maha Pemurah dan Maha pengasih, beliau menerima wangsit dari Tuhan. Salah satu ajaran organisasi Perjalanan Tri Luhur, yaitu wewarah “janji 7” yang berupa perjanjian 7 pasal yang merupakan perjanjian manusia pada dirinya sendiri dengan disaksikan Tuhan Yang Mahakuasa dan Mahasuci. Hal ini merupakan tata moral dan pedoman laku lampah bagi setiap warga perjalanan Tri Luhur dalam menghayati Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Menurut ajaran Perjalanan Tri Luhur, Tuhan mempunyai kekuasaan untuk menciptakan dunia semesta beserta segala isinya, disamping itu Tuhan juga merupakan sumber hidup dari segala kehidupan yang secara terus menerus akan memelihara dan melestarikan dunia semesta ini. Dengan demikian, manusia wajib menyembah dan memohon kepada Nya. Ajaran tentang manusia dari organisasi Perjalanan Tri Luhur meliputi asal usul manusia, struktur manusia dan kehidupan setelah kematian.
Kegiatan Perjalanan Tri Luhur dalam melaksanakan kegiatan ritual,manembah kepada Tuhan meliputi :
1. Sesuci, yaitu membersihkan diri dari perbuatan yang sifatnya kotor, tercela dan dosa, kemudian mengenakan pakaian yang bersih dan sopan.
2. Pembukaan, yaitu duduk sinuku tunggal/menghadap ke utara pada lantai yang bersih atau beralas tikar. Menghadap ke utara terkandung maksud bahwa utara adalah atas, hal ini karena Tuhan adalah di atas segala-galanya.
3. Pengalaman Pribadi, pada intinya adalah melaksanakan Tri Dharma, yaitu :
a. Dharma Bhakti, tugas dan kewajiban manusia untuk melaksanakan bakti sosial dalam masyarakat;
b. Dharma Suci,tugas dan kewajiban terhadap sesama manusia yang bersifat mental spiritual
c. Dharma Suci, tugas dan kewajiban manusia (warga Perjalanan Tri Luhur) sebagai manusia ber Kertuhanan untuk mengamalkan tugas-tugas kesucian dalammelaksanakan perintah dan kehendak Tuhan yang Mahakuasa dan Yang Mahasuci.

Sunday, April 11, 2010

RASMISANCAYA UNTUK IDA BATARA DALEM







Kami dari Padepokan Sanggar Seni Budaya dan Sastra Rasmisancaya akan melakukan gelar ritual pada piodalan Ida Batara Dalem Desa Pekeraman Tohpati Bebandem Karangasem.
Mudah - mudahan ada karunia dan berkat sehingga kami dapat menyelenggarakan dengan sempurna .

Memulai dengan nunas tirta di taksu - taksu niskala :
1. Pura Penataran Gunung Anyar
2. Pura Telaga Liligundi
3. Pura Jati Komala
4. Pura Pucak Pakis Kandel
5. Pura Pesucian Bingin
6. Pure Sang Sega Pemajangan
7. Pura kayoan Atma Ujungseri
8. Pura Batur Ujungseri

PERGELARAN DRAMA CALONARANG CIWA BUDHA KALPA


CALONARANG >>>DIMENSI UMUM
Dramatari ritual magis yang melakonkan kisah-kisah yang berkaitan dengan ilmu sihir, ilmu hitam maupun ilmu putih, dikenal dengan Pangiwa / Pangleyakan dan Panengen. Lakon-lakon yang ditampilkan pada umumnya berakar dari cerita Calonarang, sebuah cerita semi sejarah dari zaman pemerintahan raja Airlangga di Kahuripan (Jawa timur) pada abad ke IX. Cerita lain yang juga sering ditampilkan dalam drama tari ini adalah cerita Basur, sebuah cerita rakyat yang amat populer dikalangan masyarakat Bali. Karena pada beberapa bagian dari pertunjukannya menampilkan adegan adu kekuatan dan kekebalan (memperagakan adegan kematian bangke-bangkean, menusuk rangda dengan senjata tajam secara bebas) maka Calonarang sering dianggap sebagai pertunjukan adu kekebalan (batin).

CALONARANG >>> DIMENSI PERGELARAN

Dalam perang besar ini Raja Airlangga mengikutkan Pasukan Khusus Balayuda Kediri dalam menghadapi Calonarang dan pasukan leaknya.

Para Pasukan Balayuda Kediri yang terpilih sebanyak dua ratus orang yang dipimpin oleh Ki Kebo Wirang dan Ki Lembu Tal. Semua pasukan ini akan mengawal dan membantu Empu Bharadah dalam menumpas kejahatan yang dilakukan oleh Calonarang dan antek-anteknya.

Segala sesuatu perlengkapan segera dipersiapkan seperti senjata tajam berupa tombak, keris, klewang, dan lain-lain. Demikian pula dengan berbagai sarana pelindung badan yang gaib sebagai sarana penolak atau penempur leak, sarana kekebalan, semuanya diturunkan dari tempatnya yang pingit atau tempat rahasia. Yang tidak kalah pentingnya adalah persiapan mengenai perbekalan makanan dan minuman yang diperlukan selama penyerangan.
http://gemistri.com/misteri/images/stories/misteri/rangda,%20ratu%20para%20leak.jpg
Ketika semua persiapan dianggap rampung, maka mereka pun istrirahat agar tenaga cukup kuat untuk penyerangan besok. Keesokan harinya perjalanan penyerangan dilakukan, pasukan khusus atau pasukan pilihan dari Kediri yang disebut dengan Pasukan Balayuda dalam penyerangan tersebut mengawal Empu Bharadah. Sedangkan di depan sebagai pemimpin pasukan dipercayakan kepada Ki Kebo Wirang didampingi Ki Lembu Tal.

Tidak diceritakan perjalanan mereka, akhirnya rombongan Empu Bharadah dan pasukan Kediri sampai di pesisir selatan Desa Lembah Wilis. Di sana rombongan tersebut berhenti sejenak untuk beristirahat dalam persiapan untuk menuju ke Desa Dirah. Semua pasukan kemudian menuju Setra Ganda Mayu yang berada di Wilayah Desa Girah.

Diceritakan kemudian Ibu Calonarang dirumahnya diiringi oleh para sisyanya semua melakukan penyucian diri dan mengayat atau memuja kehadapan Ida Betari mohon anugrah kesaktian. Mereka memusatkan pikiran dan memanunggalkan bayu atau tenaga, sabda atau suara, dan idep atau pikiran, memuja Ida Betari bersarana sekar manca warna atau bunga warna-warni, dengan disertai asep menyan majegau atau wangi-wangian yang dibakar yang asapnya membubung ke angkasa, seolah-olah menyampaikan niat Ibu Calonarang kehadapan Ida Betari.
http://www.parissweethome.com/bali/images/ratuLeak01.jpg
Semua pekakas dan sarana pengleakan diturunkan dari tempatnya yang pingit atau tempat rahasia, dan masing-masing menggunakannya. Di hadapan mereka juga digelar tetandingan jangkep atau sarana sesajen lengkap sesuai dengan keperluan. Calonarang kemudian mulai memejamkan mata dan memusatkan pikiran. Ia tampak berkomat-kamit mengucapkan mantra sakti memohon anugrah kesaktian dan kesidian kehadapan Hyang Maha Wisesa, dengan harapan Empu Bharadah dan Balayuda Kediri dapat dikalahkan.

Setelah beberapa saat melakukan konsentrasi, maka sampailah pada puncaknya. Raja pengiwa pun telah dibangkitkan dan merasuk ke dalam sukma. Kedigjayaan atau kewisesan telah turun dan masuk ke dalam jiwa raga. Calonarang kemudian bangkit dan berkata kepada semua sisyanya “para sisyaku semuanya, permohonan kita kehadapan Hyang Betari telah terkabulkan dan telah mencapai puncaknya. Kesaktian telah kita bangkitkan semuanya, dan telah merasuk ke dalam jiwa dan raga. Kini saatnya kita bertarung menghadapi Empu Bharadah dan Balayuda Kediri. Kita akan pertahankan harga diri kita. Mampuskan semua orang-orang Kediri yang datang ke sini menyerang. Demikian perintah Calonarang kepada seluruh sisyanya. Suaranya ketika itu telah berubah menjadi besar dan menggema, dan bukan merupakan suaranya yang biasa. Kemudian Calonarangpun tertawa ngakak, dan terdengar menakutkan.

Semua sisya Calonarang telah nyuti rupa atau berubah wujud dan siap menyerang. Ada wujud bojog atau monyet yang siap menggigit, ada kambing siap nyenggot atau menanduk, ada sapi dan kuda yang siap ngajet atau menendang, ada kain kasa atau kain putih panjang yang siap menggulung dan membakar, ada bade atau menara pengusungan mayat yang siap membakar, ada babi bertaring panjang yang siap ngelumbih atau membanting dengan kepala, ada awak belig atau badan licin yang mukanya seperti umah tabuan atau sarang tawon. Ada pula api bergulung-gulung yang siap membakar siapa saja yang menghadang. Semua pasukan leak kemudian keluar dari rumah Calonarang dalam rupa bola api beterbangan, kemudian menuju ke Setra Ganda Mayu tempat perjanjian pertempuran dengan Empu Bharadah dan pasukan Balayuda Kediri.
http://www.strangerinparadise.com/2000/0005/Ogoh-ogoh.jpg
Melihat pasukan leak dengan beraneka rupa datang, pasukan Kediri menjadi kaget dan was-was dan ada yang ketakutan. Semuanya bersiap-siap dan merapatkan diri. Demikian pula dengan Ki Kebo Wirang dan Ki Lembu Tal, mereka berdua sangat waspada serta selalu berada di dekat Empu Bharadah untuk mengawalnya.

Empu Bharadah tidak sedikitpun gentar melihat kawanan leak tersebut, bahkan semangat untuk bertempur semakin membara. Sambil juga Empu Bharadah mengucap mantra sakti Pasupati. Dilengkapi pula dengan sarana sesikepan, sesabukan, rerajahan kain, dan pripian tembaga wasa atau lempengan tembaga. Sangat ampuh mantra sakti Pasupati tersebut. Empu Bharadah membawa pusaka sakti berupa sebuah keris yang bernama Kris Jaga Satru.
dan ilmu leak itu pun ada tingkatannya gan:
1. Ilmu Leak Tingkat Bawah yaitu orang yang bisa ngeleak tersebut bisa merubah wujudnya menjadi binatang seperti monyet, anjing, ayam putih, kambing, babi betina (bangkung) dan lain – lain.

2. Ilmu Leak Tingkat Menengah yaitu orang yang bisa ngeleak pada tingkat ini sudah bisa merubah wujudnya menjadi Burung Garuda bisa terbang tinggi, paruh dan cakarnya berbisa, matanya bisa keluar api, juga bisa berubah wujud menjadi Jaka Tungul atau pohon enau tanpa daun yang batangnya bisa mengeluarkan api dan bau busuk yang beracun.

3. Ilmu Leak Tingkat Tinggi yaitu orang yang bisa ngeleak tingkat ini sudah bisa merubah wujudnya menjadi Bade yaitu berupa menara pengusungan jenasah bertingkat dua puluh satu atau tumpang selikur dalam bahasa Bali dan seluruh tubuh menara tersebut berisi api yang menjalar – jalar sehingga apa saja yang kena sasarannya bisa hangus menjadi abu.

Thursday, October 1, 2009

VIHARA BLAHBATUH STANA BUDHA





Harumnya bunga tak dapat melawan arah angin
Begitu pula harumnya kayu cendana
Tetapi harumnya kebajikan dapat melawan arah angin
Harumnya nama orang baik dapat menyebar ke segenap penjuru


Vihara adalah tempat ibadah yang harus dipelihara keagungannya, oleh karena itu umat Buddha melepas sendal atau sepatu bila akan memasuki ruang vihara khususnya di ruang tempat patung Sang Buddha ditempatkan untuk dipuja dan tempat pembabaran Dhamma (Dhammasala) sebagai tanda penghormatan akan keagungan itu.

Kita mengikuti kebaktian di vihara untuk kebaikan kita sendiri karena dengan demikian kita dapat membaca paritta, berdana, melaksanakan sila, mendengarkan pembabaran Dhamma yang kesemuanya merupakan perbuatan baik dan mendorong kita untuk menjadi orang baik.

Di altar terdapat beberapa macam barang yaitu :

* Patung Sang Buddha untuk mengingatkan umat Buddha akan Guru Agung mereka
* Lilin sebagai lambang penerangan yang diajarkan oleh Sang Buddha
* Dupa sebagai pengharum ruangan yang melambangkan keharuman nama seseorang
agung yang memancar ke seluruh penjuru
* Bunga yang indah sebagai penghormatan yang tulus kepada Sang Buddha dan
melambangkan bahwa segala sesuatu akan berubah sebagaimana bunga yang indah
itupun pada suatu saat akan layu
* Air sebagai lambang kesucian yang membersihkan noda-noda

Kami dari Asram Bundaram mengikuti kegiatan Agni Hotra di Vihara Blahbatuh ini atas prakarsa Pendeta Eka dan Bunda R.A.M .

semoga apa yang dikehendaki mendapatkan restu dari Sang Budha
Om Namo Budaya

Tuesday, September 29, 2009

PERJALANAN SPIRITUAL NUSANTARA SUJUD BHAKTI DI PULAU MENJANGAN



Om, awignam astu ya nama sidham, rahayu rahayu, rahayu .

Sudah sekian lama Aku tunggu ; ...... Sinar suci dan cahaya Bathara Wisnu telah mengantarkan kami ke tanah ini !
” Jangan sombong, angkuh dan berusalaha rendah diri!”

Erbagai diskusi tentang tanah nusantara telah kita dapat ikuti bersama, berbagai indikator nusantara juga telah kita lihat bahkan senjata dan panji – panji nusantara telah dikumpulkan, namun sampai saat ini tidak kunjung tiba arah dan kepastiannya.

GAJAH MADA... orang hanya bisa menyebut nama dan mencari kesalahannya, kelemahannya bahkan memunafikinya.
Keinginan hati seorang pemikir dan Maha Patih Gajah Mada dengan Sumpah Amukti Palapa memang terdengar cukup mencenganngkan, apalagi keturunan ksatria yang pernah diperintah untuk menundukkan wilayah tertentu sudah pasti dapat meraskan betapa agung dan wibawanya seorang Maha Patih.
Namun tak ada seorangpun yang tahu siapa dan darimana beliau dan asal usulnya. Sejarah demu sejarah telah dilalui sampai saat ini, tak satupun penulis mampu menuliskan asal usul Maha Patih Gajah Mada.

Keberanian kami melakukan perjalanan dan mencoba menguak tabir Maha Patih Gajah Mada merupakan sebuah untaian perjalanan spiritual nusantara saja, karena keberadaan Majapahit sendiri merupakan kelanjutan dari perjalanan sejarah Padjajaran yang sedang kami turuti.
Kemahakuasaan Bathara Wisnu sendiri didalam melahirkan taksu awatara pada jaman dan sejarah tertentu juga sangat pingit dan penuh rahasya, apalagi yang hanya belajar agama sebatas teologi saja, tak akan tersentuh pada penggalian spiritual kesejarahan ( purana ).
Sejarah Bathara Wisnu sebagai leluhur umat manusia yang ke 5 ( limat ) setelah Bathara Cikal, Sanghyang Wenang, Batara Ciwa dan Bathara Brahma maka sebagai leluhur sangat wajarlah beliau mengeluarkan taksu baru ( awatara ) pada jaman Majapahit dengan melahirkan Seorang Ksatria Gajah Mada.

IDA BATHARA WISNU
” tidak ada yang sadar diri akan kesalahannya, setelah memperoleh anugerah yang berlimpah tidak ingat pada sesama dan saling membantu”

Sejarah membuktikan tak pernah sekalipun Majapahit ingin menyerang Padjajaran, kerena memang Padjajaran adalah leluhur Gajah Mada, sangat mustahil dan tidak terhormatlah beliau kalau menyerang Padjajaran.

Sampai akhirnya Kerajaan Majapahit runtuh terkoyak oleh ulahnya sendiri, maka keberadaan dan kejayaan Gajah Mada pun ikut lenyap ditelan bumi / kembali kepangkuan Pertiwi dan kembali ke Angga Wisnu yang akhirnya menjadi Sanghyang Wisnu Murti yang bertugas melenyapkan manusia yang momo angkara serta mengumpulkan kekayaan yang berlebihan tanpa merasakan penderitaan orang lain.

Dijaman Kaliyuga dan tak beraturan ini melalui seorang penekun dan penggali spiritual di Singaraja yaitu Ratu Prabhu dan Ibu Ratu sesuai dengan petunjuk dan wangsit yang diperoleh melakukan penjemputan kembali Arca serta aksu Gajah Mada kembali ke Tanah yang penuh kesucian dan Para Dewata tepatnya di Pulau Menjangan ( Singaraja Barat ) .

Di pulau di ujung kepala burung pulau bali inilah di prabukan arca serta pralingga Ida Bathara Dalem Lingsir Gajah Mada,
Disinipula distanakan beberapa yang berhubungan dengan beliau seperti :
1. Pura Taman Klenting Sari
2. Pesraman Agung Brahma Ireng Ratu Agung Patih Kebo Iwa
3. Linggih Dewi Kwam Im
4. Linggih Betara Dalem Lingsir Gajah Mada

WEJANGAN BETARA DALEM LINGSIR GAJAH MADA ;

” Jangan takut menginjakkan kaki, sekalipun itu berduri . . . berani dengan langkah yang salah sekalipun, karena kebenaran itu walaupun berdarah sekalipun harus dijalani . . . kebencian para penghianat akan membuat cahaya terang yang cerah kepadaku.
” Kesalahan tinggal kesalahan . . . karena Aku menoreh kesalahan,
Putra Padjajaran belum saatnya meneteskan darah, , , Berjalanlah diatas keangkuhan, karena para Radja saat ini mampu memerdekakan, tetapi tidak mampu membuat kemakmuran malahan membuat penderitaan. . .
Merdeka tinggal merdeka. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ”

” Mintalah maaf jika kau menginjakkan kaki di bumi yang kau pinjam ini . . bersujudlah!

”Tunjukkanlah kebenaran! Hanya penghianat yang akan meneteskan darahnya di bumi pertiwi ini .

GAJAH MADA SAAT INI
Gajah identik dengan besar ; tidak bisa berbuat sesuatu’
Yang tersisa hanyalah gading sebagai pancaran kebenaran

Madha adalah kekuatan dari sinar ( aku ) kekuatan ga’ib dari cahaya
Siapapun yang kotor tidak akan mampu dan bisa berdiri dihadapan Gajah Mada. . . janganlah belajar dari sejarah yang salah karena leluhur akan mencabut janjinyadan menghentikannya untuk mendamaikan bumi ini. . .



Gajah Mada mengelilingi dunianya . . .
Gajah Mada tidak jauh dari idealisme dan penggali persatuan nusantara ’ ’ ’

Shanti, Maha Patih untuk Nusantara

PETI TENGET PROPERTY - ROYALTY - PROSPIORITY



PETI TENGET adalah sebuah kawan pantai laut barat Pulau Bali, dengan Kerobokan menjadi wilayah penggenggamnya, Kerobokan dengan monumen pertama kali leluhur menginjakkan kaki di Pulau Bali dengan mengobok pantai laut barat Bali, kemudian melanjutkan perjalanan ke arah timur. Perjalanan spiritual leluhur ini dalam rangka penggalian dan penyempurnaan konsep spiritual dan ritual yang tersisih ditanah Jawa, Kenapa Bali dipilih karena Bali pada saat itu memang sangat memungkinkan karena area yang berbukit tebing dan hamparan pantai sangat cocok untuk melakukan penggalian spiritual ( segara giri manunggal ); *baca catatan kecil kaki pulau bali.

KOnsep spiritual sangat terbalik dengan konsep materialisme, maka segala bentuk material yang terselamatkan dari pulau jawa dititip rapi ditempat ini secara niskala, agar kapan diperlukan dapat diambil sewaktu - waktu juga dengan cara niskala.

Berbagai cobaan dan rintangan memagari property, royalty dan prospiority leluhur yang tersimpan, untuk itu tempat ini sangat pingit dan magis.

Adapun tempat suci yang melengkapi Pura Peti Tenget ini adalah :
1. Pura Ayu Masceti
2. Pura Ratu Gede Sedahan Agung
3. Pura Ratu Gede Dalem Ped ( pesimpangan )
4. Pura Induk Peti Tenget ( Genah Naga Gombang, Naga Sari, Ulun Danu dsb)

Wednesday, September 23, 2009

PERJALANAN SPIRITUAL PENYAMBUTAN KEMBALINYA MAJELIS PARA DEWA KE PARAHYANGAN


PULAU LOMBOK ; LINGGIH MAJELIS BATHARA LINGSIR GUNUNG AGUNG DENGAN BETHARA LINGSIR NYOMAN RINJANI.

Berangkat dari kaki Gunung Lempuyang ( Linggih Bathara Hyang Gni Jaya ) kami dari Asrham Bunda Ram serta personil dari media dan para sisya Padepokan Rasmi sancaya menuju Pulau Lombok melalui penyeberangan Padang Bai Lembar, pada pukul 16.00. sampai di Lembar pukul 20.30.
Tiba di Kota Mataram kami disambut dengan pengelukatan gumi ( hujan ), astungkara betara lingsir Gunung Rinjani atas limpahannya.

Pukul 05.00 kembali bergegas akan melakukan persembahyangan bersama, ketika itu kita rasakan lintasa gema alam sebagai ciri Betara kembali ke parahyangan, dengan guncangan ekor naga kendaraan Betara ( gempa 5.4 s.rht ).

Persiapan sebelum menuju linggih Betara Lingsir Gunung Agung di Gunung Sari yaitu

Permohonan ijin awal di Pura Jagatnatha Mayure,disini ijin yang diberikan dengan isyarat yang sama yaitu kibasan ekor naga sebagai pertanda ijin diberikan untuk melanjutkan program berikutnya.

Menyucikan diri di Pura Narmada; penyucian diri di pura ini menggunakan konsep anugrah Maha Wisnu sebagai awatara Dewi Gangga yang langsung memberikan penyucian kepada para bhakta dengan cara ;
- Meraup dari dagu ke kepala 3 Kali
- Tepuk air 3X, telunjuk ketelinga kanan
- Tepuk air 3X, telunjuk ketelinga kiri
- Tepuk air 3X, Tepuk dada 3X dengan mengucap permohonan pada Dewio Gangga
- Teguk air 3X
- Medanapunia seiklasnya.

Melukat di Pura Suranadi ; Pengelukatan dipura Suranadi langsung membasuh diri di kolam suci yang airnya langsung turun dari Gunung Rinjani. gerrrrrrrrrrrrrrr dinggggggggggggggin sekali ( air suci belum ada manusia yang menjamah di luhur gunung rinjani ), tetapi setelah mohon ijin pengelukatan, rasa airnya langsung lebih hangat dan seger, astungkara.
Di Pura Suranadi / Tirtha Suranadi terdiri dari :
1. Tirta Pebersihan
2. Tirta Pengelukatan
3. Tirta Pengening
4. Tirta Pengentas
5. Tirta penembak
Di Pura Suranadi kita sembahyang dengan memohon anugrah nadi alam semesta ( hutan belantara suranadi )penjaga utama berbentuk babi hutan yang putih, wanara coklat dan binatang lainnya yang enggan diusik manusia, sebagai wujud protes seakan jagalah hutan ini.

Menuju Tatar Gunung Sari sebagai linggih Betara Lingsir Gunung Agung ; disini kita menghadap sujud bhakti di kaki betara pada jam 24.00 malam, berbagai macam petuah, pewecana serta ceciri yang dilimpahkan pada kita, khususnya pengetahuan penyatuan Ciwa Budha / Purusa Pradana / Giri Seagara / Tegeh endep / Luhur Dasar / Ang - Ah .
karena memang benar di Pura Gunung Sari ini saja yang ada hanya pelinggih Luhur dan Pelinggih Dasar Buana yang sangat dalam ( 5 m kedalam tanah ) dengan penjaga utama Naga Antaboga yang kuning keemas-emasan serta serdadu Buaya putih, Kodok dan kura - kura sebagai penjaga 3 telaga tirta yaitu (tirta besukih di selatan, tirta banyuurip di utara, tirta mas di barat )
Di Madyaning mandala ada Taman sari yang sangat asri, dikelilingi dengan arca widyadara widyadari yang ada di swarga loka, juga dipimpin oleh seorang Ida Betara Gede Balian yang berlakon sebagai pengamanan dan pengayoman umat akan bencana dan bahaya.

Di Tatar Gunung Sari ini juga kita melakukan meditasi surya raditya dengan memakai bentuk "keong " yang berarti jembatan spiritual secara niskala, jembatan spirit dar dasar menuju luhur akasa.( bisa dilihat pada www.suryaradite.blogspot.com )

Pura Lingsar Bebengan ( Tanjung ) lombok utara
disini kita melakukan persembahyangan bersama serta pengobatan massal, karena memang didaerah ini pengertian dan pelaksanaan keagamaan masih perlu penyempurnaan.

Pura Medana ( Makam Papuk Medana )
" Darma Sunya " kidung rasmisancaya, inilah yang patut didengungkan di tempat ini, penekun dan pelanjut generasi waktu telu bersemayam ditempat ini, tempat yang tinggi menjorok ke laut ( uluwatu Bali ) sebagai tempat peristirahatan terakhir seorang empu kayogiswara Papuk Medana / Raden Wira Jaya , sesuai cerita sesepuh ditempat Sang Papuk dikejar - kejar kelompok perongrong spiritual karena berani mengajarkan pengetahuan spiritualitas didaerah ini, sampai - sampai anak kandung yang bernama dende intan komala sari pun ikut menjadi korban. Disini kita menyanyikan lagu "bengawan solo " sebagai kenangan sang anak yang ikut berkorban demi perjuangan spiritualitas, sambil beberapa sahabat menangis tersedu - sedu sebagai ciri pertemuan mistis dari para penganut spritualitas.

Pura Batu Bolong Sengigi;
Dipura ini kita melakukan persembahyangan bersama sebagai persimpangan beberapa Betara yang ada di tanah Bali seperti Ida Betara Ratu Gede Mas Mecaling dan Ida Ratu Gede Balian di Nusa Ped, Ida Betara Gunung Lempuyang dsb. Juga sebagai tempat persinggahan Ida Pedande Sakti Wau Rawuh.

Pura LINGSAR
Dipura ini kita dapat menikmati anugrah Betara dalam bentuk aura suci dan arca-arca suci peninggalan jaman dulu sebagai bentuk spiritualitas lombok pada jamannya, pada saat itu hanya ditempat inilah wujud spiritual yang langsung merangsuk pada wujud taksu spirit sejati, sampai hadirnya seorang maha pandita Pedanda Sakti Wau Rawuh tiba di Pulau ini dengan memberikan ceramah keagaamaan dan spiritualitas.

Pura Dalem Pingit Pegesangan
Tiba dipura ini sudah malam sehingga kita melakukan boga dulu baru melakukan persembahyangan dengan dipimpin oleh seorang Pendeta Suci Ida Pedande Gede Kerta, sekaligus memberikan wejangan / darma wacana kepada kita semua.
isi dari darmawacana beliau adalah ;
1. Merupakan hal pokok bagi para pemula yang belajar ilmu pengetahuan adalah menyebut aksara suci " Om, Ongkara Ya Namah Swaha" sebagi gegemet / bahasa suci agar beliau berkenan memberi ijin atas pengetahuan yang kita pelajari tersebut.

2. Menyembah Dewi Saraswati terlebih dahulu didalam belajar ilmu keagamaan.
3. Sistem Meditasi sederhana yaitu menghirup udara yang diyakini bersemayam dewa agni dan rangsukkanlah diseluruh tubuh, kemudian keluarkan dalam bentuk udara kotor yang menjadi sisa kekotoran dalam tubuh kita.

4. Adanya oknum pendeta yang masih belum bisa membedakan warna dan kasta serta penggaruhnya pada kelompok sosial masyarakat.
5. Hubungan yang ada perjalanan niskala dan ilmu pengetahuan keagaaman ( teologi) adalah pada korelasi panca maha buta yang ada pada dasar pembentukan manusia yang ada pada ilmu keagamaan dapat dirasakan dengan ilmu keadnyananan ( niskalagama ) dan penggaruhnya pada diri sendiri.
5. Konsentrasi pikiran pada waktu persembahyangan tidak ada hubungannya dengan karma yang kita rasakan pada kehidupan sehari hari ( suka duka lara pati ) karena ini memang harus terjadi pad kehidupan ini, tetapi sembahyang juga merupakan hal yang patut dilakukan sebagai proses hidup / kewajiban.

Selanjutnya kita melakukan pengobatan massal di Pura Dalem Pingit Pegesangan, sampai jam 12.00 terus persiapan mepamit pulang keBali, sampai dipadang bai tiba pulul 18.00 terus pulang kerumah masing - masing.

Astu Tat Astu, Awignam Astu Ya Nama Swaha...