Sunday, October 31, 2010
Sunday, September 19, 2010
LEGONG KERATON BERMULA DARI PROSES MEDITASI

oleh ; agung bawantara
Ini sebuah catatan menarik mengenai asal-muasal tari Legong. Saya temukan pada sebuah katalog festival pelegongan yang diselenggarakan di Denpasar, Mengwi, dan Peliatan pada 1995. Catatan itu dibuat oleh Prof. Dr. I Made Bandem, Sekretaris Yayasan Walter Spies yang menyelenggarakan acara tersebut. Dalam catatan tersebut Prof. Bandem mengutarakan bahwa lahirnya Legong bermula dari hasil pertapaan Raja Sukawati, I Dewa Agung Made Karna. Kisah tersebut tercatat dalam Babad Dalem Sukawati yang disurat sekitar awal abad ke-19. Saat itu wilayah Sukawati, Gianyar, memang sudah masyur sebagai daerah yang memiliki penari-penari yang sangat handal.
Menurut babad tersebut, suatu hari I Dewa Agung Made Karna yang dikenal memiliki kemampuan spiritual yang tinggi, melakukan pertapaan di Pura Yogan Agung di desa Ketewel, dekat Sukawati. Pada saat itu hadirlah dalam ciptanya beberapa sosok bidadari-bidadari melayang di angkasa. Para bidadari yang cantik jelita itu memperagakan tarian yang sangat menakjubkan. Mereka berbusana penuh warna. Kepala mereka bergelung tatahan emas penuh manikam yang cerlang-cemerlang.
Begitulah, saat bangkit dari tapanya, sang raja memerintahkan penguasa desa Ketewel untuk mengumpulkan para seniman di sana dan meminta mereka membuat beberapa topeng sekaligus menciptakan tarian berdasarkan penglihatan (cipta) sang raja.
Beberapa bulan kemudian, lahirlah sembilan topeng sebagai wujud sembilan bidadari dalam mitologi Hindu. Dua penari Sanghyang kemudian diperintahkan untuk menarikan topeng tersebut. Penari Sanghyang adalah penari-penari muda pilihan yang tidak hanya berbakat melenggokkan tubuh, melainkan juga memiliki kepekaan untuk trance, dan belum menstruasi. Tari topeng yang dipertunjukkan oleh kedua penari Sanghyang itu dinamakan dengan Sang Hyang Legong. Tarian ini –dengan topeng aslinya— hingga kini masih digelar di Pura Yogan Agung setiap upacara Piodalan yang diselenggarakan setiap 210 hari sekali di pura tersebut.
Terinspirasi oleh Sanghyang Legong, tak berapa lama kemudian sebuah kelompok tari dari Blahbatuh yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Jelantik melahirkan sebuah tarian baru dalam gaya yang serupa. Bedanya, semua penarinya adalah laki-laki dan tidak mengenakan topeng. Tarian ini dinamakan dengan Nandir.
Dalam sebuah acara, Raja Sukawati menyaksikan pertunjukan Nandir, dan amat terkesan. Beliau kemudian memerintahkan punggawanya untuk mengumpulkan para seniman di Sukawati untuk membuta tarian serupa untuk para gadis muda di istananya. Hasilnya adalah tarian Legong yang kita kenal sekarang.
Rupanya, pesona para penari Legong jauh lebih memukau daripada penari Nandir. Maka lambat laun Nandir pun menghilang dan punah. Penari Nandir terakhir adalah I Wayan Rindi dari Denpasar telah meninggal pada tahun 1976.
Pada pertengahan 1930-an hingga 1960-an beberapa tarian tunggal baru muncul. Tarian-tarian tersebut antara lain Panji Semirang dan Margapati. Karena kekurangan terminologi, tarian-tarian tersebut pun disebut Legong. Untuk membedakannya, legong yang asli diberi nama Legong Kraton.
Beberapa Komposisi Legong
* Pelayon – tidak memiliki cerita khusus, abstrak
* Lasem – mengisahkan kegemulaian Putri Rangesari
* Kuntir – mengisahkan pertarungan dua kakak-beradik memperebutkan seorang perempuan jelita
* Jobog – menisahkan Subali dan Sugriwa yang memperebutkan Cupu manic Astagina
* Kuntul – menisahkan tarian dua ekor burung Kuntul
* Prabangsa – merupakan fragmentasi kisah Calon Arang
* Legod Bawa – mengisahkan Dewa Wisnu dan Dewa Indra beradu kekuartan dengan Dewa Siwa. Tarian ini menggunakan topeng beruang dan garuda.
* Kupu-kupu Tarum – mengisahkan sepasang kupu-kupu bercengkerama di taman
* Candra Kanta – mengisahkan keharmonisan antara rembulan dan matahari
* Semaradhana – mengisahkan Dewa Siwa yang tengah melakukan yoga Samadhi
* Goak Macok – mengisahkan dua ekor gagak yang tengah berburu telur ayam kampung
* Bapang – abstrak
* Durga abstrak
* Sudarsana – termasuk cerita Calonarang
* Raja Cina* – mengisahkan percintaan sepasang kekasih
* Bramara* – mengisahkan percintaan sepasang kumbang
* Calonarang* – Cuplikan kisah Calonarang
* Gadung Melati* – menggambarkan kemolekan bunga-bunga di taman
Catatan:
Komposisi tari yang bertanda * adalah komposisi yang hingga tahun 1995 belum direkonstruksi.
Sunday, September 12, 2010
PROGRAM RASMISANCAYA

PROGRAM KEGIATAN RASMISANCAYA
1. YOGA
Yoga (Aksara Dewanagari) dari bahasa Sansekerta berarti "penyatuan", yang bermakna "penyatuan dengan alam" atau "penyatuan dengan Sang Pencipta". Yoga merupakan salah satu dari enam ajaran dalam filsafat Hindu, yang menitikberatkan pada aktivitas meditasi atau tapa di mana seseorang memusatkan seluruh pikiran untuk mengontrol panca inderanya dan tubuhnya secara keseluruhan. Masyarakat global umumnya mengenal Yoga sebagai aktivitas latihan utamanya asana (postur) bagian dari Hatta Yoga. Yoga juga digunakan sebagai salah satu pengobatan alternatif, biasanya hal ini dilakukan dengan latihan pernapasan, oleh tubuh dan meditasi, yang telah dikenal dan dipraktekkan selama lebih dari 5000 tahun.
Orang yang melakukan tapa yoga disebut yogi, yogin bagi praktisi pria dan yogini bagi praktisi wanita.
Sastra Hindu yang memuat ajaran Yoga, diantaranya adalah Upaishad, Bhagavad Gita, Yogasutra, Hatta Yoga serta beberapa sastra lainnya.
Klasifikasi ajaran Yoga tertuang dalam Bhagavad Gita, diantaranya adalah Karma Yoga/Marga, Jnana Yoga/Marga, Bakti Yoga/Marga, Raja Yoga/Marga.
Yoga memberi ketenangan bagi mahluk hidup yang keseharian hidupnya dipenuhi hiruk-pikuk dan kompleksitas. Motivasi manusia berbeda satu dengan yang lain, ada yang ingin mendapatkan anuegarh alam dengan menyerap hawa halus alam melalui yoga, merestorasi olah pikiran agar lebih terkonsentrasi dan mengarah pada satu titik tujuan hidup yang sejati, memperoleh anugerah kesehatan yang alami, memusatkan energi diri ( kundalini ) pada tahap kehidupan yang diinginkan, tahap kepedulian terhadap kehidupan spiritual mereka, atau ada juga yang hanya mengikuti karena situasi lingkungan saat ini dan sebagainya .
Tehnik Yoga :
Gerakan Fisik / Olah tubuh
Olah Nafas / Wirama
Olah Pikiran
Keseimbangan /Mudra
Pembersihan / SatKarma
Konsentrasi / Dharana
Meditasi / Dyana
Penyatuan Diri / Samadhi
Pembebasan / Self Realitation
Kebahagiaan / Hasya
AKTIVITAS YOGA RASMI SANCAYA
Healing Event
Tour and Adventure On Sipirit Places
Sport On Spirit Land
TEMPAT :
Budakeling ; Holy Village and Pandith ( Munk )Houses
BadaBudu Hill ( Budha Budi ); Full of Energy Spirit
Tirtagangga ; Holy Spring Water
Taman Ujung ; Place for Lango ( Relax & Happy healing )
Lempuyang ; Based of Life( Light of Earth )
Besakih ; Paradise Knowledge in Bali
Tenganan Village ; Clasical Bali Age
2. PENDIDIKAN BUDI PEKERTI
Budi Pekerti adalah induk dari segala etika ,tatakrama, tata susila, perilaku baik dalam pergaulan , pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. Pertama-tama budi pekerti ditanamkan oleh orang tua dan keluarga dirumah, kemudian disekolah dan tentu saja oleh masyarakat secara langsung maupun tidak langsung.
Pada saat ini dimana sendi-sendi kehidupan banyak yang goyah karena terjadinya erosi moral,budi pekerti masih relevan dan perlu direvitalisasi.
Budi Pekerti yang mempunyai arti yang sangat jelas dan sederhana, yaitu : Perbuatan( Pekerti) yang dilandasi atau dilahirkan oleh Pikiran yang jernih dan baik ( Budi).
Manusia Indonesia menempati posisi sentral dan strategis dalam pelaksanaan pembangunan nasional, sehingga diperlukan adanya pengembangan sumber daya manusia (SDM) secara optimal. Pengembangan SDM dapat dilakukan melalui pendidikan mulai dari dalam keluarga, hingga lingkungan sekolah dan masyarakat.
Salah satu SDM yang dimaksud bisa berupa generasi muda (young generation) sebagai estafet pembaharu merupakan kader pembangunan yang sifatnya masih potensial, perlu dibina dan dikembangkan secara terarah dan berkelanjutan melalui lembaga pendidikan sekolah. Beberapa fungsi pentingnya pendidikan sekolah antara lain untuk : 1) perkembangan pribadi dan pembentukan kepribadian, 2) transmisi cultural, 3) integrasi social, 4) inovasi, dan 5) pra seleksi dan pra alokasi tenaga kerja ( Bachtiar Rifai). Dalam hal ini jelas bahwa tugas pendidikan sekolah adalah untuk mengembangkan segi-segi kognitif, afektif dan psikomotorik yang dapat dikembangkan melalui pendidikan moral. Dengan memperhatikan fungsi pendidikan sekolah di atas, maka setidaknya terdapat 3 alasan penting yang melandasi pelaksanaan pendidikan moral di sekolah, antara lain : 1). Perlunya karakter yang baik untuk menjadi bagian yang utuh dalam diri manusia yang meliputi pikiran yang kuat, hati dan kemauan yang berkualitas, seperti : memiliki kejujuran, empati, perhatian, disiplin diri, ketekunan, dan dorongan moral yang kuat untuk bisa bekerja dengan rasa cinta sebagai ciri kematangan hidup manusia. 2). Sekolah merupakan tempat yang lebih baik dan lebih kondusif untuk melaksanakan proses belajar mengajar. 3).Pendidikan moral sangat esensial untuk mengembangkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan membangun masyarakat yang bermoral (Lickona, 1996 , P.1993).
Pelaksanaan pendidikan moral ini sangat penting, karena hampir seluruh masyarakat di dunia, khususnya di Indonesia, kini sedang mengalami patologi social yang amat kronis. Bahkan sebagian besar pelajar dan masyarakat kita tercerabut dari peradaban eastenisasi (ketimuran) yang beradab, santun dan beragama. Akan tetapi hal ini kiranya tidak terlalu aneh dalam masyarakat dan lapisan social di Indonesia yang hedonis dan menelan peradaban barat tanpa seleksi yang matang. Di samping itu system [pendidikan Indonesia lebih berorientasi pada pengisian kognisi yang eqivalen dengan peningkatan IQ (intelengence Quetiont) yang walaupun juga di dalamnya terintegrasi pendidikan EQ (Emotional Quetiont). Sedangkan warisan terbaik bangsa kita adalah tradisi spritualitas yang tinggi kemudian tergadai dan lebih banyak digemari oleh orang lain di luar negeri kita, yaitu SQ (Spiritual Quetiont). Oleh sebab itu, perlu kiranya dalam pengembangan pendidikan moral ini eksistensi SQ harus terintegrasi dalam target peningkatan IQ dan EQ siswa.
Akibat dari hanyutnya SQ pada pribadi masyarakat dan siswa pada umumnya menimbulkan efek-efek social yang buruk. Bermacam-macam masalah sosial dan masalah-masalahh moral yang timbul di Indonesia seperti : 1). meningkatnya pembrontakan remaja atau dekadensi etika/sopan santun pelajar, 2). meningkatnya kertidakjujuran, seperti suka bolos, nyontek, tawuran dari sekolah dan suka mencuri, 3). berkurangnya rasa hormat terhadap orang tua, guru, dan terhadap figur-figur yang berwenang, 4). meningkatnya kelompok teman sebaya yang bersifat kejam dan bengis, 5) munculnya kejahatan yang memiliki sikap fanatik dan penuh kebencian, 6). berbahsa tidak sopan, 7). merosotnya etika kerja, 8). meningkatnya sifat-sifat mementingkan diri sendiri dan kurangnya rasa tanggung jawab sebagai warga negara, 9). timbulnya gelombang perilaku yang merusak diri sendiri seperti perilaku seksual premature, penyalahgunaan mirasantika/narkoba dan perilaku bunuh diri, 10). timbulnya ketidaktahuan sopan santun termasuk mengabaikan pengetahuan moral sebagai dasar hidup, seperti adanya kecenderungan untuk memeras tidak menghormati peraturan-peraturan, dan perilaku yang membahayakan terhadap diri sendiri atau orang lain, tanpa berpikir bahwa hal itu salah (Koyan, 2000, P.74).
Untuk merespon gejala kemerosotan moral tersebut, maka peningkatan dan intensitas pelaksanan pendidikan moral di sekolah merupakan tugas yang sangat penting dan sangat mendesak bagi kita, dan perlu dilaksanakan secara komprehensif dan dengan menggunakan strategi serta model pendekatan secara terpadu, yaitu dengan melibatkan semua unsur yang terkait dalam proses pembelajaran atau pendidikan seperti : guru-guru, kepala sekolah orang tua murid dan tokoh-tokoh masyarakat. Tujuan pendidikan moral tidak semata-mata untuk menyiapkan peserta didik untuk menelan mentah konsep-konsep pendidikan moral, tetapi yang lebih penting adalah terbentuknya karakter yang baik, yaitu pribadi yang memiliki pengetahuan moral, peranan perasaan moral dan tindakan atau perilaku moral (Lickona, 1992. P. 53 )
Pada sisi lain, dewasa ini pelaksanan pendidikan moral di sekolah diberikan melalui pembelajaran pancasila dan kewarganegaraan (PPKn) dan Pendidikan agama akan tetapi masih tampak kurang pada keterpaduan dalam model dan strategi pembelajarannya Di samping penyajian materi pendidikan moral di sekolah, tampaknya lebih berorientasi pada penguasaan materi yang tercantum dalam kurikulum atau buku teks, dan kurang mengaitkan dengan isu-isu moral esensial yang sedang terjadi dalam masyarakat, sehingga peserta didik kurang mampu memecahkan masalah-masalah moral yang terjadi dalam masyarakat Bagi para siswa,adalah lebih banyak untuk menghadapi ulangan atau ujian, dan terlepas dari isu-isu moral esensial kehidupan mereka sehari-hari. Materi pelajaran PPKn dirasakah sebagai beban, dihafalkan dan dipahami, tidak menghayati atau dirasakan secara tidak diamalkan dalam perilaku kehidupan hari-hari.
Dalam upaya untuk meningkatkan kematangan moral dan pembentukann karakter siswa. Secara optimal ,maka penyajian materi pendidikan moral kepada para siswa hendaknya dilaksanakan secara terpadu kepada semua pelajaran dan dengan mengunakan strategi dan model pembelajaran seccara terpadu, yaitu dengan melibatkan semua guru, kepala sekolah ,orang tua murid, tokoh-tokoh masyarakat sekitar. Dengan demikian timbul pertanyaan,bahan kajian apa sajakah yang diperlukan untuk merancang model pembelajaran pendidikan moral dengan mengunakan pendekatan terpadu ?
Untuk mengembangkan strategi dan model pembelajaran pendidikan moral dengan menggunakan pendekatan terpadu ,diperlukan adanya analisis kebutuhan (needs assessment) siswa dalam belajar pendidikan moral. Dalam kaitan ini diperlukan adanya serangkaian kegiatan, antara lain : (1) mengidentifikasikan isu-isu sentral yang bermuatan moral dalam masyarakat untuk dijadikan bahan kajian dalam proses pembelajaran di kelas dengan menggunakan metode klarifikasi nilai (2) mengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan siswa dalam pembelajaran pendidikan moral agar tercapai kematangan moral yang komprehensif yaitu kematangan dalam pengetahuan moral perasaan moral,dan tindakan moral, (3) mengidentifikasi dan menganalisis masalah-masalah dan kendala-kendala instruksional yang dihadapi oleh para guru di sekolah dan para orang tua murid di tua murid dirumah dalam usaha membina perkembangan moral siswa,serta berupaya memformulasikan alternatif pemecahannya, (4) mengidentifikasi dan mengklarifikasi nilai-nilai moral yang inti dan universal yang dapat digunakan sebagai bahan kajian dalam proses pendidikan moral, (5) mengidentifikasi sumber-sumber lain yang relevan dengan kebutuhan belajar pendidikan moral.
Dengan memperhatikan kegiatan yang perlu dilakukan dalam proses aplikasi pendidikan moral tersebut, kaitannya dengan kurikulum yang senantiasa berubah sesuai dengan akselerasi politik dalam negeri, maka sebaiknya pendidikan moral juga dilakukan penngkajian ulang untuk mengikuti competetion velocities dalam persaingan global. Bagaimanapun negeri ini memerlukan generasi yang cerdas, bijak dan bermoral sehingga bisa menyeimbangkan pembangunan dalam keselarasan keimanan dan kemajuan jaman. Pertanyaannya adalah siapkah lingkungan sekolah (formal-informal), masyarakat dan keluarga untuk membangun komitmen bersama mendukung keinginan tersebut ? Karena nasib bangsa Indonesia ini terletak dan tergantung pada moralitas generasi mudanya.
3. DHARMA GITA DAN WACANA
Dharma Wacana adalah methoda penerangan Agama Hindu yang disampaikan pada setiap kesempatan Umat Hindu yang berkaitan dengan kegiatan keagamaan. Kegiatan penerangan semacam ini dimasa lalu disebut Upanisada. Terminologi Upanisada atau upanisad mengandung arti dan sifatnya yang "Rahasyapadesa" dan merupakan bagian dari kitab Sruthi. Pada masa lalu ajaran upanisad sering dihubungkan dengan "Pawisik" yakni ajaran rahasia yang diberikan oleh seorang guru kerohanian kepada siswa atau muridnya dalam jumlah yang sangat terbatas.
Materi Dharma Wacana yang dapat disampaikan pada setiap kesempatan yang ada, pada dasarnya meliputi semua aspek ajaran agama Hindu yang dikaitkan dengan kehidupan. Dalam hal ini dapat diklasifikasikan kedalam Sruthi, Smerthi, Purana, Itihasa dan Sang Sistha. Penyampaian materi disesuaikan dengan jenis kegiatan seperti kegiatan persembahyangan bersama hari purnama dan tilem, resepsi perkawinan, kegiatan pertemuan arisan dan sejenisnya dengan mengungkap beberapa sloka/ayat kitab suci yang relevan dengan thema dan jenis kegiatan itu.
Dharma Wacana sangat baik apabila disampaikan melalui ungkapan bahasa yang mudah dimengerti, dihayati dan diresapkan oleh hadirin. mampu memukau dan dihindari penggunaan istilah-istilah asing, kecuali belum atau tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Bahasa yang dipergunkan dalam Dharma Wacana disamping bahasa Indonesia dapat juga dipakai bahasa daerah setempat.
Dharma Gita artinya nyanyian keagamaan. Secara tradisional telah dilaksanakan di seluruh Indonesia. Kegiatan ini di Bali disebut makidung, makakawin, magaguritan, atau mamutru. Bila lagu keagamaan ini dirangkaikan dalam mengiringi suatu upacara seperti Dewa Yadnya, Dharma Gita ini dapat disebutkan sebagai Dharma Gita Anjali atau Gitanjali. Disamping itu lagu-lagu keagamaan ini dikaitkan pula dengan kesenian tradisionil seperti halnya: Arja atau topeng di Bali. Dalam usaha untuk mempelajari kitab-kitab suci seperti Weda, pembacaan-pembacaan Weda dapat dinyanyikan. Bahkan usaha untuk menyusun atau mengarang lagu-lagu keagamaan sebagai persembahan atau Gitanjali perlu digalakkan dikalangan seniman.
Dharma Gita sebagai media untuk menyampaikan dan memperdalam keyakinan beragama sangat efektif. Oleh karena itu penyampaian materi ajaran dijalin demikian rupa dalam bentuk lagu/irama yang indah dan menawan, mempesona pembaca dan pendengarnya. Usaha untuk melestarikan, mengembangkan dharma gita bertujuan untuk tetap menjaga dan memelihara warisan budaya tradisional yang diabadikan kepada keagamaan. Disamping itu melalui dharma gita diharapkan akan mampu memberikan sentuhan rasa kesucian kekhidmatan serta kekhusukan dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan.
Sumber materi untuk Dharma Gita diambil dari kitab-kitab suci Agama Hindu maupun sastra-sastrakeagamaan lainnya yang dirangkaikan dalam bentuk geguritan, kidung, kakwin, dan mamutru. Untuk pengembangan lebih jauh perlu ditampilkan karya-karya baru yang berthemakan ajaran agama Hindu. Pengembangan materi dalam kreasi baru ini perlu dilaksanakan dalam rangka memperkaya dan menyesuaikan dengan perkembangan jaman.
Materi Dharma Gita diambil langsung dari kitab suci serta sastra-sastra keagamaan umumnya mempergunakan bahsa sansekerta maupun bahasa Jawa Kuno. Untuk mencapai sasaran/tujuannya perlu diberikan terjemahan yang mempergunakan bahasa yang mudah, seperti bahasa Indonesia atau bahasa daerah setempat. Demikian pula kreasi-kreasi Dharma Gita yang baru tetap membawakan pesan dan thema keagamaan, pemakaian bahasa daerah tidaklah merupakan hambatan bahkan justru sangat diharapkan untuk menumbuhkan rasa ikut meiliki dan ikut bertanggung jawab.
Catatan:
Dharma Gita merupakan salah satu media kesenian yang sangat menunjang pemahaman ajaran agama serta usaha meningkatkan kesucian rohani, media kesenian yang juga memegang peranan penting dan sama, karena itu pembinaan kehidupan keagamaan di Indonesia hendaknya senantiasa memanfaatkan kesenian daerahnya masing-masing.
4. SENI TARI DAN TABUH
Musik tradisional Bali memiliki kesamaan dengan musik tradisional di banyak daerah lainnya di Indonesia, misalnya dalam penggunaan gamelan dan berbagai alat musik tabuh lainnya. Meskipun demikian, terdapat kekhasan dalam tehnik memainkan dan gubahannya, misalnya dalam bentuk kecak, yaitu sebentuk nyanyian yang konon menirukan suara kera. Demikian pula beragam gamelan yang dimainkan pun memiliki keunikan, misalnya Gamelan Jegog, Gamelan Gong Gede, Gamelan Gambang, Gamelan Selunding, dan Gamelan Semar Pegulingan. Adapula musik Angklung dimainkan untuk upacara ngaben, serta musik Bebonangan dimainkan dalam berbagai upacara lainnya.
Terdapat bentuk modern dari musik tradisional Bali, misalnya Gamelan Gong Kebyar yang merupakan musik tarian yang dikembangkan pada masa penjajahan Belanda, serta Joged Bumbung yang mulai populer di Bali sejak era tahun 1950-an. Umumnya musik Bali merupakan kombinasi dari berbagai alat musik perkusi metal (metalofon), gong, dan perkusi kayu (xilofon). Karena hubungan sosial, politik dan budaya, musik tradisional Bali atau permainan gamelan gaya Bali memberikan pengaruh atau saling mempengaruhi daerah budaya di sekitarnya, misalnya pada musik tradisional masyarakat Banyuwangi serta musik tradisional masyarakat Lombok.
Seni tari Bali pada umumnya dapat dikatagorikan menjadi tiga kelompok; yaitu wali atau seni tari pertunjukan sakral, bebali atau seni tari pertunjukan untuk upacara dan juga untuk pengunjung, dan balih-balihan atau seni tari untuk hiburan pengunjung.
Pakar seni tari Bali I Made Bandem pada awal tahun 1980-an pernah menggolongkan tari-tarian Bali tersebut; antara lain yang tergolong ke dalam wali misalnya Berutuk, Sang Hyang Dedari, Rejang dan Baris Gede, bebali antara lain ialah Gambuh, Topeng Pajegan, dan Wayang Wong, sedangkan balih-balihan antara lain ialah Legong, Parwa, Arja, Prembon dan Joged, serta berbagai koreografi tari modern lainnya.
Salah satu tarian yang sangat populer bagi para wisatawan ialah Tari Kecak. Sekitar tahun 1930-an, Wayan Limbak bekerja sama dengan pelukis Jerman Walter Spies menciptakan tari ini berdasarkan tradisi Sanghyang dan bagian-bagian kisah Ramayana. Wayan Limbak mempopulerkan tari ini saat berkeliling dunia bersama rombongan penari Bali-nya.
Tarian wali
• Sang Hyang Dedari
• Sang Hyang Jaran
• Tari Rejang
• Tari Baris
• Tari Janger
Tarian bebali
• Tari Topeng
• Gambuh
Tarian balih-balihan
• Tari Legong
• Arja
• Joged Bumbung
• Drama Gong
• Barong
• Tari Pendet
• Tari Kecak
• Calon Arang
5. ASTAKARYA
Seni kriya adalah cabang seni yang menekankan pada ketrampilan tangan yang tinggi dalam proses pengerjaannya. Seni kriya berasal dari kata “Kr” (bhs Sanskerta) yang berarti ‘mengerjakan’, dari akar kata tersebut kemudian menjadi karya, kriya dan kerja. Dalam arti khusus adalah mengerjakan sesuatu untuk menghasilkan benda atau obyek yang bernilai seni” (Prof. Dr. Timbul Haryono: 2002).
Dalam pergulatan mengenai asal muasal kriya Prof. Dr. Seodarso Sp dengan mengutif dari kamus, mengungkapkan “perkataan kriya memang belum lama dipakai dalam bahasa Indonesia; perkataan kriya itu berasal dari bahasa Sansekerta yang dalam kamus Wojowasito diberi arti; pekerjaan; perbuatan, dan dari kamus Winter diartikan sebagai ‘demel’ atau membuat”. (Prof. Dr. Soedarso Sp, dalam Asmudjo J. Irianto, 2000)
Sementara menurut Prof. Dr. I Made Bandem kata “kriya” dalam bahasa indonesia berarti pekerjaan (ketrampilan tangan). Di dalam bahasa Inggris disebut craft berarti energi atau kekuatan. Pada kenyataannya bahwa seni kriya sering dimaksudkan sebagai karya yang dihasilkan karena skill atau ketrampilan seseorang”. (Prof. Dr. I Made Bandem, 2002)
Dari tiga uraian ini dapat ditarik satu kata kunci yang dapat menjelaskan pengertian kriya adalah; kerja, pekerjaan, perbuatan, yang dalam hal ini bisa diartikan sebagai penciptaan karya seni yang didukung oleh ketrampilan (skill) yang tinggi.
Seperti telah disinggung diawal bahwa istilah kriya digali khasanah budaya Indonesia tepatnya dari budaya Jawa tinggi (budaya yang berkembang di dalam lingkup istana pada sistem kerajaan). Denis Lombard dalam bukunya Nusa Jawa: Silang budaya, menyatakan ‘istilah kriya yang diambil dari kryan menunjukkan pada hierarki strata pada masa kerajaan Majapahit, sebagai berikut; “Pertama-tama terdapat para mantri, atau pejabat tinggi serta para arya atau kaum bangsawan, lalu para kryan yang berstatus kesatriya dan para wali atau perwira, yang tampaknya juga merupakan semacam golongan bangsawan rendah’. (Denis Lombard dalam Prof. SP. Gustami, 2002)
Menyimak pendapat Prof. SP. Gustami yang menguraikan bahwa; seni kriya merupakan warisan seni budaya yang adi luhung, yang pada zaman kerajaan di Jawa mendapat tempat lebih tinggi dari kerajinan. Seni kriya dikonsumsi oleh kalangan bangsawan dan masyarakat elit sedangkan kerajinan didukung oleh masyarakat umum atau kawula alit, yakni masyarakat yang hidup di luar tembok keraton. Seni kriya dipandang sebagai seni yang unik dan berkualitas tinggi karena didukung oleh craftmanship yang tinggi, sedangkan kerajinan dipandang kasar dan terkesan tidak tuntas. Bedakan pembuatan keris dengan pisau baik proses, bahan, atau kemampuan pembuatnya.
Lebih lanjut Prof. SP. Gustami menjelaskan perbedaan antara kriya dan kerajinan dapat disimak pada keprofesiannya, kriya dimasa lalu yang berada dalam lingkungan istana untuk pembuatnya diberikan gelar Empu. Dalam perwujudannya sangat mementingkan nilai estetika dan kualitas skill. Sementara kerajinan yang tumbuh di luar lingkungan istana, si-pembuatnya disebut dengan Pandhe. Perwujudan benda-benda kerajinan hanya mengutamakan fungsi dan kegunaan yang diperuntukkan untuk mendukung kebutuhan praktis bagi masyarakat (rakyat). (Prof. SP. Gustami, 2002) Pengulangan dan minimnya pemikiran seni ataupun estetika adalah satu ciri penanda benda kerajinan.
Pemisahan yang berdasarkan strata atau kedudukan tersebut mencerminkan posisi dan eksistensi seni kriya di masa lalu. Seni kriya bukanlah karya yang dibuat dengan intensitas rajin semata, di dalamnya terkandung nilai keindahan (estetika) dan juga kualitas skill yang tinggi. Sedangkan kerajinan tumbuh atas desakan kebutuhan praktis dengan mempergunakan bahan yang tersedia dan berdasarkan pengalaman kerja yang diperoleh dari kehidupan sehari-hari.
Kembali ditegaskan oleh Prof. SP. Gustami: seni kriya adalah karya seni yang unik dan punya karakteristik di dalamnya terkandung muatan-muatan nilai estetik, simbolik, filosofis dan sekaligus fungsional oleh karena itu dalam perwujudannya didukung craftmenship yang tinggi, akibatnya kehadiran seni kriya termasuk dalam kelompok seni-seni adiluhung (Prof. SP.Gustami, 1992:71).
Uraian tadi menyiratkan bahwa kriya merupakan cabang seni yang memiliki muatan estetik, simbolik dan filosofis sehingga menghadirkan karya-karya yang adiluhung dan munomental sepanjang jaman. Praktek kriya pada masa lalu dibedakan dari kerajinan, kriya berada dalam lingkup istana (kerajaan) pembuatnya diberi gelar Empu. Sedangkan kerajinan yang berakar dari kata “rajin” berada di luar lingkungan istana, dilakoni oleh rakyat jelata dan pembuatnya disebut pengerajin atau pandhe.
Dari beberapa pendapat yang telah dibahas sebelumnya menjelaskan bahwa wujud awal seni kriya lebih ditujukan sebagai seni pakai (terapan). Praktek seni kriya pada awalnya bertujuan untuk membuat barang-barang fungsional, baik ditujukan untuk kepentingan keagamaan (religius) atau kebutuhan praktis dalam kehidupan manusia seperti; perkakas rumah tangga. Contohnya dapat kita saksikan pada dari artefak-artefak berupa kapak dan perkakas pada jaman batu serta peninggalan-peninggalan dari bahan perunggu pada jaman logam berupa; nekara, moko, candrasa, kapak, bejana, hingga perhiasan seperti; gelang, kalung, cincin. Benda-benda tersebut dipakai sebagai perhiasan, prosesi upacara ritual adat (suku) serta kegiatan ritual yang bersifat kepercayaan seperti; penghormatan terhadap arwah nenek moyang.
Masuknya agama Hindu dan Budha memberikan perubahan tidak saja dalam hal kepercayaan, tetapi juga pada sistem sosial dalam masyarakat. Struktur pemerintahan kerajaan dan sistem kasta menimbulkan tingkatan status sosial dalam masyarakat. Masuknya pengaruh Hindu–Budha di Indonesia terjadi akibat asimilasi serta adaptasi kebudayaan Hindu-Budha India yang dibawa oleh para pedagang dan pendeta Hindu-Budha dari India dengan kebudayaan prasejarah di Indonesia. Kedua sistem keagamaan ini mengalami akulturasi dengan kepercayaan yang sudah ada sebelumnya di Indonesia yaitu pengkultusan terhadap arwah nenek moyang, dan kepercayaan terhadap spirit yang ada di alam sekitar. Kemudian kerap tumpang tindih dan bahkan terpadu ke dalam pemujaan-pemujaan sinkretisme Hindu-Budha Indonesia. (Claire Holt diterjemahkan oleh RM. Soedarsono, 2000)
Tumbuh dan berkembangnya kebudayan Hindu-Budha di Indonesia kemudian melahirkan kesenian berupa seni ukir dengan beraneka ragam hias, dan patung perwujudan dewa-dewa. Dalam sistem sosial kemudian lahir sistem pemerintahan kerajaan yang berdasarkan kepada kepercayaan Hindu seperti kerajaan Sriwijaya di Sumatra, kerajaan Kutai di Kalimantan, kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat, Mataram Kuno Jawa Tengah. Hingga kerajaan Majapahit di Jawa Timur dengan maha patih Gajah Mada yang tersohor, yang kemudian membawa pengaruh Hindu ke Bali. Seni ukir tradisional masih diwarisi hingga saat ini.
Peran seni kriyapun menjadi semakin berkembang tidak saja sebagai komponen dalam hal kepercayaan/agama, namun juga menjadi konsumsi golongan elit bangsawan yaitu sebagai penanda status kebangsawanan. Kondisi tersebut menjadikan kriya sebagai seni yang bersifat elitis karena menduduki posisi terhormat pada masanya, berbeda dengan kerajinan yang cenderung tumbuh pada kalangan masyarakat biasa atau golongan rendah.
Akan tetapi keadaannya berbeda pada masa modern, dimana tingkatan sosial seperti pada masa kerajaan yang disebut “kasta” sudah tidak lagi eksis. Kalaupun ada tingkatan sosial kini tidak lagi berdasarkan “kasta” atau kebangsawanan yang dimiliki oleh seseorang, akan tetapi kemapanan ekonomi kini menjadi penanda bagi status seseorang. Artinya tarap ekonomi yang dimiliki seseorang dapat membedakan posisi mereka dari orang lain, secara sederhana kekuasan sekarang ditentukan oleh kemampuan ekonomi yang dimiliki seseorang. Dalam sistem masyarakat modern kondisinya telah berubah kaum elit yang dulunya ditempati oleh kaum bangsawan (ningrat), sekarang digantikan kalangan konglomerat (pemilik modal). Kondisi ini membawa dampak bagi pada posisi kriya, karena kini kriya mulai kehilangan struktur sosial yang menopang eksistensinya seperti pada masa lalu.
Situasi ini menjadikan kriya tidak lagi menjadi seni yang spesial karena posisi terhormatnya di masa lalu kini sudah terancam tidak eksis lagi, kriya kini menjadi sebuah artefak warisan masa lalu. Terlebih lagi dalam industri budaya seperti sekarang kedudukan kriya kini tidak lebih sebagai obyek pasar, yang diproduksi secara masal dan diperjualbelikan demi kepentingan ekonomi. Kriya kini mengalami desakralisasi dari posisi yang terhormat di masa lalu, yang adiluhung merupakan artefak yang tetap dihormati namun sekaligus juga direduksi dan diproduksi secara terus-menerus.
Kehadiran kriya pada jenjang pendidikan adalah sebuah upaya mengangkat kriya dari hanya sebagai artefak, untuk menjadikannya sebagai seni yang masih bisa eksis dan terhormat sekaligus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman. Inilah tugas berat insan kriya kini. Dalam perkembangan selanjutnya sejalan dengan perkembangan jaman, konsep kriyapun terus berkembang. Perubahan senantiasa menyertai setiap gerak laju perkembangan zaman, praktek seni kriya yang pada awalnya sarat dengan nilai fungsional, kini dalam prakteknya khususnya di akademis seni kriya mengalami pergeseran orientasi penciptaan. Kriya kini menjelma menjadi hanya pajangan semata dengan kata lain semata-mata seni untuk seni. Pergerakan ini kemudian melahirkan kategori-kategori dalam tubuh kriya, kategori tersebut antara lain kriya seni, dan desain kriya.
Pakaian daerah
Pakaian daerah Bali sesungguhnya sangat bervariasi, meskipun secara selintas kelihatannya sama. Masing-masing daerah di Bali mempunyai ciri khas simbolik dan ornamen, berdasarkan kegiatan/upacara, jenis kelamin dan umur penggunanya. Status sosial dan ekonomi seseorang dapat diketahui berdasarkan corak busana dan ornamen perhiasaBusana tradisional pria umumnya terdiri dari:
Busana Adat Pria
• Udeng (ikat kepala)
• Kain kampuh
• Umpal (selendang pengikat)
• Kain wastra (kemben)
• Sabuk
• Keris
• Beragam ornamen perhiasan
Busana Adat Wanita
Busana tradisional wanita umumnya terdiri dari:
• Gelung (sanggul)
• Sesenteng (kemben songket)
• Kain wastra
• Sabuk prada (stagen), membelit pinggul dan dada
• Selendang songket bahu ke bawah
• Kain tapih atau sinjang, di sebelah dalam
• Beragam ornamen perhiasan
Friday, September 10, 2010
MAHA PATIH GAJAH MADA


Maha Patih Gajah Mada harus menerima nasibnya. Kebesarannya,
diakhir hayatnya hanya membuat ia diasingkan di
desa terpencil ini. Tak pernah jelas dalam asal
usulnya, jelas ia bukan raja yang perlu
dilegendakan riwayat kelahirannya.
Tapi yang pasti kemungkinan besar ia keturunan
keluarga bangsawan karena berhasil memasuki pasukan
Bhayangkara bahkan bisa menjadi pemimpinnya.
Sudah jamak saat itu, ketika pasukan elit hanya
bisa dimasuki oleh mereka yang berdarah biru pula.
Majapahit yang baru berdiri, dibawah Raden Wijaya, raja pertamanya,
sedang berusaha mengkonsolidasikan kekuatannya. Setelah Kediri dengan
Jayakatwangnya berhasil ditaklukkan, dan di sisi lain pasukan Mongolia
telahberhasil diusir pergi, maka negara baru itu segera bermimpi akan mencapai
kebesarannya setidaknya mencapai seperti Singosari, negara awalnya. Di
samping itu bukankah Raden Wijaya adalah keturunan resmi yang pertama
kali berhasil menjadi raja dari perkawinan Ken dedes dan Ken Arok, yang
dilegendakan akan menurunkan raja terbesar di Jawa? Semuanya sudah
tersedia, tinggal bagaimana raja baru itu memanfaatkan situasi.
Maka pembangunan kemiliteran adalah
salah satu jalan yang diplih untuk
memperkuat negara itu. Apalagi dalam
perjalanannya, negara yang baru
tumbuh itu, harus mengalami berbagai
macam pemberontakan, yang terutama
dari sahabat dekat sang raja sendiri,
seperti Ranggalawe, Lembu sora, ataupun
Nambi. Negara itu akan rapuh jika tak ada
yang siap beregenerasi. Maka
sekolah militer untuk perwira dimasa depan
disiapkan. Dan Gajah Mada adalah salah satu
produknya. Menghabiskan masa mudadalam pendidikan
kemiliteran, tak ada yang tahu kenapa ia bisa melesat tinggi karirnya.
Hanya satu hal yang ia tahu, kesempatan tak pernah datang dua kali.
Setelah Raden Wijaya wafat, Jayanegara naik sebagai raja. Sayang ia
lemah.
Maka ketidakpuasan pun muncul. Dan yang terhebat adalah pemberontakan
Kuti. Huru hara pun muncul di ibukota, yang menyebabkan Jayanegara harus
lari kesebuah desa hanya ditemani oleh pasukan elitnya yaitu
Bhayangkara (nama desanya lupa, kalau gak salah namanya Badeder),
yang tentu saja pimpinannya saat itu adalah Gajah Mada.
Gajah Mada yang cerdas ini segera menyusun siasat, untuk mengembalikan
tahta pada sang raja. Ia pergi ke ibukota, untuk melihat reaksi rakyat,
apakah Kuti didukung atau tidak. Ia tiupkan isu sang raja telah wafat.
Segera kesedihan mewarnai ibukota. Dan ia pun tahu, rakyat masih dibelakan
sang raja. Segera ia kumpulkan pasukan, cari dukungan dan kemudian
munculkan sang raja. Kuti yang tak berpikir ke sana akhirnya kalah
oleh kuatnya dukungan terhadap sang raja. Ia kalah cerdik oleh juniornya.
Tetapi setelah sang rajakembali berkuasa, tetap tak tak ada yang berubah.
Dan Gajah mada pun muak melihatnya. Negara ini akan hancur jika raja lemah.
Bagi Gajah mada,
kesetiaan bukanlah pada sang raja, tapi bagi negaranya. Ia segera menyusun
siasat. Ia tahu sang raja mata keranjang. Temannya Ra Tanca, tabib istana,
punya istri yang cantik. Oleh Gajah Mada, ia mengisyaratkan berita ini pada
sang raja. Raja yang penasaran itupun mencari tahu, dan setelah melihat
sendiri, ternyata jatuh hati pada istri Ra Tanca. Ra Tanca yang mengetahui
berita ini pun marah. Baginya sekarang cuma ada dua pilihan, membunuh
sang raja, atau ialah yang akan dibunuh. Pada waktu raja sakit, Gajah Mada
segera menyiapkan perangkapnya. Ia panggil Ra Tanca untuk mengobati
raja. Tapi ia tahu pula, hati Ra Tanca sudah terbakar amarah, dan pasti
akan memanfaatkan situasi ini. Benar saja Ra Tanca membunuh raja. Ada dua
versi, ada yang bilang membunuh dengan keris, versi lain dengan
meminumkan racun. Gajah Mada yang sudah memperkirakan hal ini, segera
bertindak seolah-olah ia kaget, dan segera menikam Ra Tanca, pembunuh
raja sekaligus melenyapkan bukti. Segera nama Gajah Mada semakin
menjulang ditengah duka ibukota. Dan istri Ra Tanca? Ah, janganlah berpikir
ini cerita romantis, bahwa Gajah Madalah yang mendapatkannya, sebab bagi
sejarah, nasib istri Ra Tanca tak penting lagi.
Dan Gajah Mada pun jadi pahlawan. Bagi sebagian orang yang juga tak
menyukai Jayanegara, tindakan Gajah mada tepat. Apalagi setelah
Jayanegara wafat, digantikan oleh Tribuana Tungga Dewi. Wanita yang nyaris
dijadikan istri oleh Jayanegara, walaupun ia merupakan saudara satu ayah
lain ibu Jayanegara. Dan Tribuana sendiri hanya sebagai raja pengganti,
menggantikan sang ibu Gayatri yang memilih menjadi Biksuni hingga Gayatri
wafat, sehingga Hayam Wuruk menjadi raja. Tapi disini, ada yang berubah.
Karir Gajah Mada meningkat. Setelah hanya menjadi bekel, kemudian naik
menjadi pimpinan pasukan pelindung raja, naik menjadi patih di daerah
Kediri(sebuah daerah protektorat), kemudian ia menjadi Mahapatih di
Majapahit dan secara de facto yang memegang kekuasaan tertinggi,
karena Hayam wuruk masih kecil. Dan disaat pengangkatnnya lah ia bersumpah
yang dikenal sebagai Amukti Palapa. Dan selanjutnya, hidupnya diabadikan
untuk mewujudkan sumpah itu.
Hayam wuruk yang masih kecil menyerahkan semua urusan negara pada
Gajah Mada. Dan kepercayaan itu dibalas dengan sempurna. Majapahit
segera menjadi yang terbesar. Kekuasaannya meluas, seperti yang diimpikan
oleh Gajah Mada. Bali, Tumasik, Maluku dan Campa menjadi wilayah
kekuasaannya. Kadang ia sendiri turun kemedan perang memimpin
pasukannya untuk menaklukkan. Hingga ketika kekuasaan meluas melebihi
yang pernah dikenal orang Jawa, ada satu titik yang tersisa, Sunda.
Negeri ini masih merdeka dan masalah pun dimulai. Hayam wuruk yang
beranjak dewasa, memerlukan pendamping, permaisuri yang sebanding.
Dibutuhkan yang tercantik, cerdas dan dari kerajaan yang besar pula. Hayam
wuruk menilai Dara petak dari Sunda, putri raja Galuh pantas menjadi
permaisurinya. Maka segera dikirimlah lamaran. Dan tentu saja Raja Galuh
gembira dengan lamaran ini. Hayam Wuruk adalah pria terpandang, tampan
dan sangat pantas menjadi menantunya. Dan segera urusan ini dipercepat,
dan berangkatlah Raja Galuh ke Majapahit, membawa rombongan kecil
dengan putrinya dan kemudian berhenti sejenak di desa Bubat, menunggu
jemputan dari Majapahit. Gajah Mada yang mewakili Hayam Wuruk
menjemput pengantin. Di desa Bubat mereka bertemu, untuk membicarakan
hal-hal yang menyangkut pernikahan. Tapi tragedi ini baru saja dimulai.
Gajah Mada memandang, ini adalah usaha pelengkapnya untuk
memasukkan Galuh dan seluruh Sunda yang kecil itu kedalam lingkaran
Majapahit. Sang putri, merupakan tanda upeti bagi Majapahit, sebagai
lambang kesetiaan dan nantinya akan dijadikan sebagai selir raja. Raja Galuh,
Sri Baduga tak meyukai ide itu. Baginya ini adalah pernikahan pihak yang
sederajat, sekufu, tak ada upeti dan sang putri harus menjadi permaisuri
Raja, bukan selir yang dianggap sebagai penghinaan. Kata setuju tak dapat
dicapai, dan amarah mulai menggelegak dan terjadilah pertempuran. Pasukan
Galuh yang kecil itu luluh lantak ditangan pasukan Gajah Mada dan sang raja
sendiri harus tewas. Sedang sang putri yang seharusnya akan berbahagia
akan menjadi pengantin, akhirnya bunuh diri karena menanggung kesedihan.
Dan Gajah Mada sendiri puas, cita-citanya tercapai, Nusantara telah bersatu
dibawah Majapahit.
Tapi Hayam Wuruk tak sependapat. Ia yang datang terlambat, sesuai
tradisipengantin waktu itu,
melihat pemandangan mengerikan. Calon istrinya
telah meninggal. Ia marah pada Gajah Mada,
tapi Gajah Mada adalah orang yang
sangat berjasa bagi negara. Dan tindakannya hanya
insting kenegaraan saja,
dan untuk kejayaan Majapahit. Tapi disini visi
mereka berbeda, dan tak
mungkin 2 orang yang berbeda visi bekerjasama.
Dan Gajah Mada sebagai orang Jawa mengerti hal itu,
ialah yang harus mundur. Tiba-tiba ia merasa
sudah tua, lelah sekali. Ia pergi, menanggalkan
semua kebesarannya.
Baginya sendiri tugasnya sudah selesai. Majapahit
sudah sebesar yang diimpikannya.
Ia memilih untuk menyepi, menghabiskan sisa hidupnya.
Oleh Hayam wuruk,
ia diberi sebuah desa kecil di dekat sungai
Brantas yang dibebaskan dari pajak
dan dinamakan desa Mada. Disinilah Gajah Mada menunggu takdirnya dan
menikmati kesepiannya. Dan ia tahu raja tak pernah berminat lagi bertemu
dengannya ketika sang raja mengelilingi Jawa dan sempat berada di dekat
desa Mada. Tapi Hayam wuruk tak bersedia singgah untuk bertemu mantan
Patih yang sudah tua itu. Sebuah pertanyaan tersisa, kesetiaan seperti apa
yang penting. Pada negara atau pada raja?
Thursday, September 9, 2010
HARI KEMAKMURAN ; Budha Cemeng


PEMBAHARUAN INSTALASI SPIRIT RSI MARKANDEYA ( ABAD I )
Ternyata instalasi spiritual yang terbangun di kawasan suci Besakih tidak sekedar tempat suci biasa bagi masyarakat hindu, dimana dominan untuk melakukan persembahyangan dan tirtayatra, bahkan menjadi tempat wisata yang menakjubkan.
Sangat sulit memang menemukan intisari kandungan inti relegius dari kawasan pura yang telah terbangun sampai saat ini, mungkin ada ratusan pelinggih yang terdiri dari Pura Inti Besukihan, Pusering Jagat, Penataran Tri Purusa,Catur Lawa, Pedarman dharma kawitan,serta masih banyak lagi pura yang belum disebutkan.
Menemukan Inti Spirit tersebut memerlukan sebuah kesiapan wawasan pikiran dimana pura ini dibangun karena maksud tertentu oleh para pendiri saat itu, tidak memaksakan diri untuk menganalisa ulang dengan pemikiran yang baru, apalagi hanya sekedar ikut -ikutan sebagai pewaris istilah ' mule keto '. Untuk itu perlu disadari bahwa para pendiri jaman itu hanya memikirkan bagaimana mewarisi sebuah idealisme dengan perkembangan waktu dan jaman yang berubah -ubah seperti jaman ini yaitu hanya bisa melakukan persembahyangan saja tanpa harus mengerti apa maksud dan pengetahuan apa yang terkandung didalam pura tersebut.
Kami dari Sanggar Padepokan Rasmi Sancaya mencoba memaksakan diri untuk mengerti dan membuka diri melihat inti dari spirit yang ada di masing - masing pura tersebut, sebagai langkah kami pada saat Buda Cemeng ( Wage Klawu )yaitu menelusuri instalasi spirit Ida Dukuh Sakti yang di kawasan Pura Besakih yaitu berawal dari :
Pura Bangun Sakti sebagai fundamen awal sebuah peradaban ( sosial, ekonomi, politik, budaya dan spiritualitas ), pada Buda Cemeng ini kami terfokus pada sebuah langkah awal penuntunan kekuatan Sri Sedana sebagai dasar agem - ageman kami sebagai fasilitas kehidupan yang yang tidak bisa epas dari dunia material ( berekonomi ), selanjutnya kami menguatkan energi di Pura Goa Raja terus mencatatkan diri di Pura Sri Sedana agar lebih bersemangat dengan spirit Ida Betara Sri Sedhana.
Selanjutnya kami membuat signal spirit kewirausahaan di Pura Manik Subandar yang kami tancapkan di Padepokan yang bertujuan spirit itu selalu terhubung dari padepokan dengan Betara Manik Subandar yang ada diseluruh semesta ini.
Terakhir kami berjanji dan berikrar di Pura Pemuput sebagai mahkota kehidupan, yaitu harta benda yang kami peroleh digunakan untuk memelihara alam sebagai rumah manusia beserta seluruh kehidupannya bersama Tumbuhan dan Hewan.
Sepanjang kami menelusuri dan persembahyangan itu diguyur hujan lebat, tetapi diakhir persembahyangan kami di Pura Pemuput hujan seketika hilang sampai kami kembali ke padepokan ( rahasya Sri Sedana ).
Itulah cara kami melakukan penjelajahan siritual di hari Kemakmuran Budha Cemeng tahun ini, semga tak terhalangi serta anugerah yang berlimpah pada Padepokan Kami.
Suksma dan Rahayu
Tuesday, September 7, 2010
TANAM PANCAR , KEBAT LAWANG TOPENG SAAT TUMPEK WAYANG


Sanggar Padepokan RasmiSancaya mencoba menanam pancar ulang serta ngebat lawang kembali warisan petopengan yang telah satu generasi hilang, namun atas asung waranugraha yang maha Taksu Semara Ratih kembali akan dikibarkan diawali pada saat Tumpek Wayang September Tahun 2010.
Sesungguhnya warisan dua (2 ) katung peragkat topeng dan perlengkapannya telah diambil alih oleh desa sebagai penerusnya, namun generasi penari topeng ( Sekehe Topeng Desa Adat Tohpati ) telah lama membaur atau tak kelihatan mahkotanya lagi.
ASAL USUL SENI TARI TOPENG.
Drama tari topeng adalah merupakan seni tari warisan budaya masyarakat Hindu
yang ada di Bali, yang terus berjalan dan berkembang, berubah sejalan dengan
perubahan nilai nilai artistik, sosial, dan kultural dari masyarakat Bali.
Kemampuannya beradaptasi dengan berbagai perubahan yang terjadi dalam
lingkungan masyarakat pendukungnya telah membuat drama tari topeng ini hingga
kini mendapat tempat yang cukup istimewa dihati masyarakat, khususnya Hindu
yang ada di Bali maupun orang bali yang ada diluar bali.
Kedepan masyarakat perlu tetap terbuka namun selektip dalam menerima berbagi
inovasi yang dilakukan oleh para seniman topeng dalam meresponse berbagai
perubahan yang terjadi disekitarnya. Hanya dengan sikap seperti ini, kita akan
memberikan kondisi yang kondusif bagi seni pertopengan kita agar tetap hidup
dan berfungsi dalam berbagai aspek kehidupan spiritual, Social, dan cultural
dari masyarakat kita.
Semoga warisan budaya adi luhung ini akan tetap hidup bagaikan sekuntum bungan
yang senantiasa menebar bau haarum semerbak dalam kehidupan seni dan budaya
bali sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
Sunday, August 29, 2010
TRI LUHUR , Dharma Suci Roh

Aliran Kebatinan Perjalanan Tri Luhur
Organisasi Perjalanan Tri Luhur didirikan oleh seorang sesepuh bernama Toeloes Partosoewirjo pada hari Senin wage (malam Selasa Kliwon), tanggal 1 Oktober 1956 di Balai Desa Kober Purwokerto. Perjalanan Tri Luhur dari kata Perjalanan yaitu gerak perbuatan atau laku manusia. Tri artinya badan Jasmani, gerak rasa sejati dan guru sejati, luhur adalah sifat ketiga perjalanan. Maksud dibentuknya wadah tersebut untuk menampung semua kegiatan yang tujuannya untuk kesempurnaan kehiduan manusia lahir dan batin.
Toeloes Partosoewirjo dilahirkan di desa Cangkerep Lor Purworejo, Jawa Tengah, pada tanggal 30 April 1924. Pada usia 12 tahun ia telah mendengar dan tertarik hal-hal yang berkaitan dengan Ketuhanan. Kemudian muncul gagasan bagaimana caranya untuk mendekatkan diri pribadinya dengan Tuhan. Atas dorongan itu maka timbullah tekad untuk mengetahui persoalan-persoalan Ketuhanan dan menumbuhkan keyakinan bahwa Tuhan mempunyai kuasa menciptakan alam semesta beserta isinya. Akhirnya pada malam Jumat Kliwon tanggal 23 Mei 1954 pada jam 01.00 sewaktu Beliau sedang duduk menghadap ke utara mohon kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa dengan sikap tenang, pasrah secara totalitas dan berkeyakinan yang mantap bahwa Tuhan itu Maha Pemurah dan Maha pengasih, beliau menerima wangsit dari Tuhan. Salah satu ajaran organisasi Perjalanan Tri Luhur, yaitu wewarah “janji 7” yang berupa perjanjian 7 pasal yang merupakan perjanjian manusia pada dirinya sendiri dengan disaksikan Tuhan Yang Mahakuasa dan Mahasuci. Hal ini merupakan tata moral dan pedoman laku lampah bagi setiap warga perjalanan Tri Luhur dalam menghayati Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Menurut ajaran Perjalanan Tri Luhur, Tuhan mempunyai kekuasaan untuk menciptakan dunia semesta beserta segala isinya, disamping itu Tuhan juga merupakan sumber hidup dari segala kehidupan yang secara terus menerus akan memelihara dan melestarikan dunia semesta ini. Dengan demikian, manusia wajib menyembah dan memohon kepada Nya. Ajaran tentang manusia dari organisasi Perjalanan Tri Luhur meliputi asal usul manusia, struktur manusia dan kehidupan setelah kematian.
Kegiatan Perjalanan Tri Luhur dalam melaksanakan kegiatan ritual,manembah kepada Tuhan meliputi :
1. Sesuci, yaitu membersihkan diri dari perbuatan yang sifatnya kotor, tercela dan dosa, kemudian mengenakan pakaian yang bersih dan sopan.
2. Pembukaan, yaitu duduk sinuku tunggal/menghadap ke utara pada lantai yang bersih atau beralas tikar. Menghadap ke utara terkandung maksud bahwa utara adalah atas, hal ini karena Tuhan adalah di atas segala-galanya.
3. Pengalaman Pribadi, pada intinya adalah melaksanakan Tri Dharma, yaitu :
a. Dharma Bhakti, tugas dan kewajiban manusia untuk melaksanakan bakti sosial dalam masyarakat;
b. Dharma Suci,tugas dan kewajiban terhadap sesama manusia yang bersifat mental spiritual
c. Dharma Suci, tugas dan kewajiban manusia (warga Perjalanan Tri Luhur) sebagai manusia ber Kertuhanan untuk mengamalkan tugas-tugas kesucian dalammelaksanakan perintah dan kehendak Tuhan yang Mahakuasa dan Yang Mahasuci.
Sunday, April 11, 2010
RASMISANCAYA UNTUK IDA BATARA DALEM





Kami dari Padepokan Sanggar Seni Budaya dan Sastra Rasmisancaya akan melakukan gelar ritual pada piodalan Ida Batara Dalem Desa Pekeraman Tohpati Bebandem Karangasem.
Mudah - mudahan ada karunia dan berkat sehingga kami dapat menyelenggarakan dengan sempurna .
Memulai dengan nunas tirta di taksu - taksu niskala :
1. Pura Penataran Gunung Anyar
2. Pura Telaga Liligundi
3. Pura Jati Komala
4. Pura Pucak Pakis Kandel
5. Pura Pesucian Bingin
6. Pure Sang Sega Pemajangan
7. Pura kayoan Atma Ujungseri
8. Pura Batur Ujungseri
PERGELARAN DRAMA CALONARANG CIWA BUDHA KALPA

CALONARANG >>>DIMENSI UMUM
Dramatari ritual magis yang melakonkan kisah-kisah yang berkaitan dengan ilmu sihir, ilmu hitam maupun ilmu putih, dikenal dengan Pangiwa / Pangleyakan dan Panengen. Lakon-lakon yang ditampilkan pada umumnya berakar dari cerita Calonarang, sebuah cerita semi sejarah dari zaman pemerintahan raja Airlangga di Kahuripan (Jawa timur) pada abad ke IX. Cerita lain yang juga sering ditampilkan dalam drama tari ini adalah cerita Basur, sebuah cerita rakyat yang amat populer dikalangan masyarakat Bali. Karena pada beberapa bagian dari pertunjukannya menampilkan adegan adu kekuatan dan kekebalan (memperagakan adegan kematian bangke-bangkean, menusuk rangda dengan senjata tajam secara bebas) maka Calonarang sering dianggap sebagai pertunjukan adu kekebalan (batin).
CALONARANG >>> DIMENSI PERGELARAN
Dalam perang besar ini Raja Airlangga mengikutkan Pasukan Khusus Balayuda Kediri dalam menghadapi Calonarang dan pasukan leaknya.
Para Pasukan Balayuda Kediri yang terpilih sebanyak dua ratus orang yang dipimpin oleh Ki Kebo Wirang dan Ki Lembu Tal. Semua pasukan ini akan mengawal dan membantu Empu Bharadah dalam menumpas kejahatan yang dilakukan oleh Calonarang dan antek-anteknya.
Segala sesuatu perlengkapan segera dipersiapkan seperti senjata tajam berupa tombak, keris, klewang, dan lain-lain. Demikian pula dengan berbagai sarana pelindung badan yang gaib sebagai sarana penolak atau penempur leak, sarana kekebalan, semuanya diturunkan dari tempatnya yang pingit atau tempat rahasia. Yang tidak kalah pentingnya adalah persiapan mengenai perbekalan makanan dan minuman yang diperlukan selama penyerangan.
http://gemistri.com/misteri/images/stories/misteri/rangda,%20ratu%20para%20leak.jpg
Ketika semua persiapan dianggap rampung, maka mereka pun istrirahat agar tenaga cukup kuat untuk penyerangan besok. Keesokan harinya perjalanan penyerangan dilakukan, pasukan khusus atau pasukan pilihan dari Kediri yang disebut dengan Pasukan Balayuda dalam penyerangan tersebut mengawal Empu Bharadah. Sedangkan di depan sebagai pemimpin pasukan dipercayakan kepada Ki Kebo Wirang didampingi Ki Lembu Tal.
Tidak diceritakan perjalanan mereka, akhirnya rombongan Empu Bharadah dan pasukan Kediri sampai di pesisir selatan Desa Lembah Wilis. Di sana rombongan tersebut berhenti sejenak untuk beristirahat dalam persiapan untuk menuju ke Desa Dirah. Semua pasukan kemudian menuju Setra Ganda Mayu yang berada di Wilayah Desa Girah.
Diceritakan kemudian Ibu Calonarang dirumahnya diiringi oleh para sisyanya semua melakukan penyucian diri dan mengayat atau memuja kehadapan Ida Betari mohon anugrah kesaktian. Mereka memusatkan pikiran dan memanunggalkan bayu atau tenaga, sabda atau suara, dan idep atau pikiran, memuja Ida Betari bersarana sekar manca warna atau bunga warna-warni, dengan disertai asep menyan majegau atau wangi-wangian yang dibakar yang asapnya membubung ke angkasa, seolah-olah menyampaikan niat Ibu Calonarang kehadapan Ida Betari.
http://www.parissweethome.com/bali/images/ratuLeak01.jpg
Semua pekakas dan sarana pengleakan diturunkan dari tempatnya yang pingit atau tempat rahasia, dan masing-masing menggunakannya. Di hadapan mereka juga digelar tetandingan jangkep atau sarana sesajen lengkap sesuai dengan keperluan. Calonarang kemudian mulai memejamkan mata dan memusatkan pikiran. Ia tampak berkomat-kamit mengucapkan mantra sakti memohon anugrah kesaktian dan kesidian kehadapan Hyang Maha Wisesa, dengan harapan Empu Bharadah dan Balayuda Kediri dapat dikalahkan.
Setelah beberapa saat melakukan konsentrasi, maka sampailah pada puncaknya. Raja pengiwa pun telah dibangkitkan dan merasuk ke dalam sukma. Kedigjayaan atau kewisesan telah turun dan masuk ke dalam jiwa raga. Calonarang kemudian bangkit dan berkata kepada semua sisyanya “para sisyaku semuanya, permohonan kita kehadapan Hyang Betari telah terkabulkan dan telah mencapai puncaknya. Kesaktian telah kita bangkitkan semuanya, dan telah merasuk ke dalam jiwa dan raga. Kini saatnya kita bertarung menghadapi Empu Bharadah dan Balayuda Kediri. Kita akan pertahankan harga diri kita. Mampuskan semua orang-orang Kediri yang datang ke sini menyerang. Demikian perintah Calonarang kepada seluruh sisyanya. Suaranya ketika itu telah berubah menjadi besar dan menggema, dan bukan merupakan suaranya yang biasa. Kemudian Calonarangpun tertawa ngakak, dan terdengar menakutkan.
Semua sisya Calonarang telah nyuti rupa atau berubah wujud dan siap menyerang. Ada wujud bojog atau monyet yang siap menggigit, ada kambing siap nyenggot atau menanduk, ada sapi dan kuda yang siap ngajet atau menendang, ada kain kasa atau kain putih panjang yang siap menggulung dan membakar, ada bade atau menara pengusungan mayat yang siap membakar, ada babi bertaring panjang yang siap ngelumbih atau membanting dengan kepala, ada awak belig atau badan licin yang mukanya seperti umah tabuan atau sarang tawon. Ada pula api bergulung-gulung yang siap membakar siapa saja yang menghadang. Semua pasukan leak kemudian keluar dari rumah Calonarang dalam rupa bola api beterbangan, kemudian menuju ke Setra Ganda Mayu tempat perjanjian pertempuran dengan Empu Bharadah dan pasukan Balayuda Kediri.
http://www.strangerinparadise.com/2000/0005/Ogoh-ogoh.jpg
Melihat pasukan leak dengan beraneka rupa datang, pasukan Kediri menjadi kaget dan was-was dan ada yang ketakutan. Semuanya bersiap-siap dan merapatkan diri. Demikian pula dengan Ki Kebo Wirang dan Ki Lembu Tal, mereka berdua sangat waspada serta selalu berada di dekat Empu Bharadah untuk mengawalnya.
Empu Bharadah tidak sedikitpun gentar melihat kawanan leak tersebut, bahkan semangat untuk bertempur semakin membara. Sambil juga Empu Bharadah mengucap mantra sakti Pasupati. Dilengkapi pula dengan sarana sesikepan, sesabukan, rerajahan kain, dan pripian tembaga wasa atau lempengan tembaga. Sangat ampuh mantra sakti Pasupati tersebut. Empu Bharadah membawa pusaka sakti berupa sebuah keris yang bernama Kris Jaga Satru.
dan ilmu leak itu pun ada tingkatannya gan:
1. Ilmu Leak Tingkat Bawah yaitu orang yang bisa ngeleak tersebut bisa merubah wujudnya menjadi binatang seperti monyet, anjing, ayam putih, kambing, babi betina (bangkung) dan lain – lain.
2. Ilmu Leak Tingkat Menengah yaitu orang yang bisa ngeleak pada tingkat ini sudah bisa merubah wujudnya menjadi Burung Garuda bisa terbang tinggi, paruh dan cakarnya berbisa, matanya bisa keluar api, juga bisa berubah wujud menjadi Jaka Tungul atau pohon enau tanpa daun yang batangnya bisa mengeluarkan api dan bau busuk yang beracun.
3. Ilmu Leak Tingkat Tinggi yaitu orang yang bisa ngeleak tingkat ini sudah bisa merubah wujudnya menjadi Bade yaitu berupa menara pengusungan jenasah bertingkat dua puluh satu atau tumpang selikur dalam bahasa Bali dan seluruh tubuh menara tersebut berisi api yang menjalar – jalar sehingga apa saja yang kena sasarannya bisa hangus menjadi abu.
Thursday, October 1, 2009
VIHARA BLAHBATUH STANA BUDHA


Harumnya bunga tak dapat melawan arah angin
Begitu pula harumnya kayu cendana
Tetapi harumnya kebajikan dapat melawan arah angin
Harumnya nama orang baik dapat menyebar ke segenap penjuru
Vihara adalah tempat ibadah yang harus dipelihara keagungannya, oleh karena itu umat Buddha melepas sendal atau sepatu bila akan memasuki ruang vihara khususnya di ruang tempat patung Sang Buddha ditempatkan untuk dipuja dan tempat pembabaran Dhamma (Dhammasala) sebagai tanda penghormatan akan keagungan itu.
Kita mengikuti kebaktian di vihara untuk kebaikan kita sendiri karena dengan demikian kita dapat membaca paritta, berdana, melaksanakan sila, mendengarkan pembabaran Dhamma yang kesemuanya merupakan perbuatan baik dan mendorong kita untuk menjadi orang baik.
Di altar terdapat beberapa macam barang yaitu :
* Patung Sang Buddha untuk mengingatkan umat Buddha akan Guru Agung mereka
* Lilin sebagai lambang penerangan yang diajarkan oleh Sang Buddha
* Dupa sebagai pengharum ruangan yang melambangkan keharuman nama seseorang
agung yang memancar ke seluruh penjuru
* Bunga yang indah sebagai penghormatan yang tulus kepada Sang Buddha dan
melambangkan bahwa segala sesuatu akan berubah sebagaimana bunga yang indah
itupun pada suatu saat akan layu
* Air sebagai lambang kesucian yang membersihkan noda-noda
Kami dari Asram Bundaram mengikuti kegiatan Agni Hotra di Vihara Blahbatuh ini atas prakarsa Pendeta Eka dan Bunda R.A.M .
semoga apa yang dikehendaki mendapatkan restu dari Sang Budha
Om Namo Budaya
Tuesday, September 29, 2009
PERJALANAN SPIRITUAL NUSANTARA SUJUD BHAKTI DI PULAU MENJANGAN


Om, awignam astu ya nama sidham, rahayu rahayu, rahayu .
Sudah sekian lama Aku tunggu ; ...... Sinar suci dan cahaya Bathara Wisnu telah mengantarkan kami ke tanah ini !
” Jangan sombong, angkuh dan berusalaha rendah diri!”
Erbagai diskusi tentang tanah nusantara telah kita dapat ikuti bersama, berbagai indikator nusantara juga telah kita lihat bahkan senjata dan panji – panji nusantara telah dikumpulkan, namun sampai saat ini tidak kunjung tiba arah dan kepastiannya.
GAJAH MADA... orang hanya bisa menyebut nama dan mencari kesalahannya, kelemahannya bahkan memunafikinya.
Keinginan hati seorang pemikir dan Maha Patih Gajah Mada dengan Sumpah Amukti Palapa memang terdengar cukup mencenganngkan, apalagi keturunan ksatria yang pernah diperintah untuk menundukkan wilayah tertentu sudah pasti dapat meraskan betapa agung dan wibawanya seorang Maha Patih.
Namun tak ada seorangpun yang tahu siapa dan darimana beliau dan asal usulnya. Sejarah demu sejarah telah dilalui sampai saat ini, tak satupun penulis mampu menuliskan asal usul Maha Patih Gajah Mada.
Keberanian kami melakukan perjalanan dan mencoba menguak tabir Maha Patih Gajah Mada merupakan sebuah untaian perjalanan spiritual nusantara saja, karena keberadaan Majapahit sendiri merupakan kelanjutan dari perjalanan sejarah Padjajaran yang sedang kami turuti.
Kemahakuasaan Bathara Wisnu sendiri didalam melahirkan taksu awatara pada jaman dan sejarah tertentu juga sangat pingit dan penuh rahasya, apalagi yang hanya belajar agama sebatas teologi saja, tak akan tersentuh pada penggalian spiritual kesejarahan ( purana ).
Sejarah Bathara Wisnu sebagai leluhur umat manusia yang ke 5 ( limat ) setelah Bathara Cikal, Sanghyang Wenang, Batara Ciwa dan Bathara Brahma maka sebagai leluhur sangat wajarlah beliau mengeluarkan taksu baru ( awatara ) pada jaman Majapahit dengan melahirkan Seorang Ksatria Gajah Mada.
IDA BATHARA WISNU
” tidak ada yang sadar diri akan kesalahannya, setelah memperoleh anugerah yang berlimpah tidak ingat pada sesama dan saling membantu”
Sejarah membuktikan tak pernah sekalipun Majapahit ingin menyerang Padjajaran, kerena memang Padjajaran adalah leluhur Gajah Mada, sangat mustahil dan tidak terhormatlah beliau kalau menyerang Padjajaran.
Sampai akhirnya Kerajaan Majapahit runtuh terkoyak oleh ulahnya sendiri, maka keberadaan dan kejayaan Gajah Mada pun ikut lenyap ditelan bumi / kembali kepangkuan Pertiwi dan kembali ke Angga Wisnu yang akhirnya menjadi Sanghyang Wisnu Murti yang bertugas melenyapkan manusia yang momo angkara serta mengumpulkan kekayaan yang berlebihan tanpa merasakan penderitaan orang lain.
Dijaman Kaliyuga dan tak beraturan ini melalui seorang penekun dan penggali spiritual di Singaraja yaitu Ratu Prabhu dan Ibu Ratu sesuai dengan petunjuk dan wangsit yang diperoleh melakukan penjemputan kembali Arca serta aksu Gajah Mada kembali ke Tanah yang penuh kesucian dan Para Dewata tepatnya di Pulau Menjangan ( Singaraja Barat ) .
Di pulau di ujung kepala burung pulau bali inilah di prabukan arca serta pralingga Ida Bathara Dalem Lingsir Gajah Mada,
Disinipula distanakan beberapa yang berhubungan dengan beliau seperti :
1. Pura Taman Klenting Sari
2. Pesraman Agung Brahma Ireng Ratu Agung Patih Kebo Iwa
3. Linggih Dewi Kwam Im
4. Linggih Betara Dalem Lingsir Gajah Mada
WEJANGAN BETARA DALEM LINGSIR GAJAH MADA ;
” Jangan takut menginjakkan kaki, sekalipun itu berduri . . . berani dengan langkah yang salah sekalipun, karena kebenaran itu walaupun berdarah sekalipun harus dijalani . . . kebencian para penghianat akan membuat cahaya terang yang cerah kepadaku.
” Kesalahan tinggal kesalahan . . . karena Aku menoreh kesalahan,
Putra Padjajaran belum saatnya meneteskan darah, , , Berjalanlah diatas keangkuhan, karena para Radja saat ini mampu memerdekakan, tetapi tidak mampu membuat kemakmuran malahan membuat penderitaan. . .
Merdeka tinggal merdeka. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ”
” Mintalah maaf jika kau menginjakkan kaki di bumi yang kau pinjam ini . . bersujudlah!
”Tunjukkanlah kebenaran! Hanya penghianat yang akan meneteskan darahnya di bumi pertiwi ini .
GAJAH MADA SAAT INI
Gajah identik dengan besar ; tidak bisa berbuat sesuatu’
Yang tersisa hanyalah gading sebagai pancaran kebenaran
Madha adalah kekuatan dari sinar ( aku ) kekuatan ga’ib dari cahaya
Siapapun yang kotor tidak akan mampu dan bisa berdiri dihadapan Gajah Mada. . . janganlah belajar dari sejarah yang salah karena leluhur akan mencabut janjinyadan menghentikannya untuk mendamaikan bumi ini. . .
Gajah Mada mengelilingi dunianya . . .
Gajah Mada tidak jauh dari idealisme dan penggali persatuan nusantara ’ ’ ’
Shanti, Maha Patih untuk Nusantara
PETI TENGET PROPERTY - ROYALTY - PROSPIORITY


PETI TENGET adalah sebuah kawan pantai laut barat Pulau Bali, dengan Kerobokan menjadi wilayah penggenggamnya, Kerobokan dengan monumen pertama kali leluhur menginjakkan kaki di Pulau Bali dengan mengobok pantai laut barat Bali, kemudian melanjutkan perjalanan ke arah timur. Perjalanan spiritual leluhur ini dalam rangka penggalian dan penyempurnaan konsep spiritual dan ritual yang tersisih ditanah Jawa, Kenapa Bali dipilih karena Bali pada saat itu memang sangat memungkinkan karena area yang berbukit tebing dan hamparan pantai sangat cocok untuk melakukan penggalian spiritual ( segara giri manunggal ); *baca catatan kecil kaki pulau bali.
KOnsep spiritual sangat terbalik dengan konsep materialisme, maka segala bentuk material yang terselamatkan dari pulau jawa dititip rapi ditempat ini secara niskala, agar kapan diperlukan dapat diambil sewaktu - waktu juga dengan cara niskala.
Berbagai cobaan dan rintangan memagari property, royalty dan prospiority leluhur yang tersimpan, untuk itu tempat ini sangat pingit dan magis.
Adapun tempat suci yang melengkapi Pura Peti Tenget ini adalah :
1. Pura Ayu Masceti
2. Pura Ratu Gede Sedahan Agung
3. Pura Ratu Gede Dalem Ped ( pesimpangan )
4. Pura Induk Peti Tenget ( Genah Naga Gombang, Naga Sari, Ulun Danu dsb)
Wednesday, September 23, 2009
PERJALANAN SPIRITUAL PENYAMBUTAN KEMBALINYA MAJELIS PARA DEWA KE PARAHYANGAN

PULAU LOMBOK ; LINGGIH MAJELIS BATHARA LINGSIR GUNUNG AGUNG DENGAN BETHARA LINGSIR NYOMAN RINJANI.
Berangkat dari kaki Gunung Lempuyang ( Linggih Bathara Hyang Gni Jaya ) kami dari Asrham Bunda Ram serta personil dari media dan para sisya Padepokan Rasmi sancaya menuju Pulau Lombok melalui penyeberangan Padang Bai Lembar, pada pukul 16.00. sampai di Lembar pukul 20.30.
Tiba di Kota Mataram kami disambut dengan pengelukatan gumi ( hujan ), astungkara betara lingsir Gunung Rinjani atas limpahannya.
Pukul 05.00 kembali bergegas akan melakukan persembahyangan bersama, ketika itu kita rasakan lintasa gema alam sebagai ciri Betara kembali ke parahyangan, dengan guncangan ekor naga kendaraan Betara ( gempa 5.4 s.rht ).
Persiapan sebelum menuju linggih Betara Lingsir Gunung Agung di Gunung Sari yaitu
Permohonan ijin awal di Pura Jagatnatha Mayure,disini ijin yang diberikan dengan isyarat yang sama yaitu kibasan ekor naga sebagai pertanda ijin diberikan untuk melanjutkan program berikutnya.
Menyucikan diri di Pura Narmada; penyucian diri di pura ini menggunakan konsep anugrah Maha Wisnu sebagai awatara Dewi Gangga yang langsung memberikan penyucian kepada para bhakta dengan cara ;
- Meraup dari dagu ke kepala 3 Kali
- Tepuk air 3X, telunjuk ketelinga kanan
- Tepuk air 3X, telunjuk ketelinga kiri
- Tepuk air 3X, Tepuk dada 3X dengan mengucap permohonan pada Dewio Gangga
- Teguk air 3X
- Medanapunia seiklasnya.
Melukat di Pura Suranadi ; Pengelukatan dipura Suranadi langsung membasuh diri di kolam suci yang airnya langsung turun dari Gunung Rinjani. gerrrrrrrrrrrrrrr dinggggggggggggggin sekali ( air suci belum ada manusia yang menjamah di luhur gunung rinjani ), tetapi setelah mohon ijin pengelukatan, rasa airnya langsung lebih hangat dan seger, astungkara.
Di Pura Suranadi / Tirtha Suranadi terdiri dari :
1. Tirta Pebersihan
2. Tirta Pengelukatan
3. Tirta Pengening
4. Tirta Pengentas
5. Tirta penembak
Di Pura Suranadi kita sembahyang dengan memohon anugrah nadi alam semesta ( hutan belantara suranadi )penjaga utama berbentuk babi hutan yang putih, wanara coklat dan binatang lainnya yang enggan diusik manusia, sebagai wujud protes seakan jagalah hutan ini.
Menuju Tatar Gunung Sari sebagai linggih Betara Lingsir Gunung Agung ; disini kita menghadap sujud bhakti di kaki betara pada jam 24.00 malam, berbagai macam petuah, pewecana serta ceciri yang dilimpahkan pada kita, khususnya pengetahuan penyatuan Ciwa Budha / Purusa Pradana / Giri Seagara / Tegeh endep / Luhur Dasar / Ang - Ah .
karena memang benar di Pura Gunung Sari ini saja yang ada hanya pelinggih Luhur dan Pelinggih Dasar Buana yang sangat dalam ( 5 m kedalam tanah ) dengan penjaga utama Naga Antaboga yang kuning keemas-emasan serta serdadu Buaya putih, Kodok dan kura - kura sebagai penjaga 3 telaga tirta yaitu (tirta besukih di selatan, tirta banyuurip di utara, tirta mas di barat )
Di Madyaning mandala ada Taman sari yang sangat asri, dikelilingi dengan arca widyadara widyadari yang ada di swarga loka, juga dipimpin oleh seorang Ida Betara Gede Balian yang berlakon sebagai pengamanan dan pengayoman umat akan bencana dan bahaya.
Di Tatar Gunung Sari ini juga kita melakukan meditasi surya raditya dengan memakai bentuk "keong " yang berarti jembatan spiritual secara niskala, jembatan spirit dar dasar menuju luhur akasa.( bisa dilihat pada www.suryaradite.blogspot.com )
Pura Lingsar Bebengan ( Tanjung ) lombok utara
disini kita melakukan persembahyangan bersama serta pengobatan massal, karena memang didaerah ini pengertian dan pelaksanaan keagamaan masih perlu penyempurnaan.
Pura Medana ( Makam Papuk Medana )
" Darma Sunya " kidung rasmisancaya, inilah yang patut didengungkan di tempat ini, penekun dan pelanjut generasi waktu telu bersemayam ditempat ini, tempat yang tinggi menjorok ke laut ( uluwatu Bali ) sebagai tempat peristirahatan terakhir seorang empu kayogiswara Papuk Medana / Raden Wira Jaya , sesuai cerita sesepuh ditempat Sang Papuk dikejar - kejar kelompok perongrong spiritual karena berani mengajarkan pengetahuan spiritualitas didaerah ini, sampai - sampai anak kandung yang bernama dende intan komala sari pun ikut menjadi korban. Disini kita menyanyikan lagu "bengawan solo " sebagai kenangan sang anak yang ikut berkorban demi perjuangan spiritualitas, sambil beberapa sahabat menangis tersedu - sedu sebagai ciri pertemuan mistis dari para penganut spritualitas.
Pura Batu Bolong Sengigi;
Dipura ini kita melakukan persembahyangan bersama sebagai persimpangan beberapa Betara yang ada di tanah Bali seperti Ida Betara Ratu Gede Mas Mecaling dan Ida Ratu Gede Balian di Nusa Ped, Ida Betara Gunung Lempuyang dsb. Juga sebagai tempat persinggahan Ida Pedande Sakti Wau Rawuh.
Pura LINGSAR
Dipura ini kita dapat menikmati anugrah Betara dalam bentuk aura suci dan arca-arca suci peninggalan jaman dulu sebagai bentuk spiritualitas lombok pada jamannya, pada saat itu hanya ditempat inilah wujud spiritual yang langsung merangsuk pada wujud taksu spirit sejati, sampai hadirnya seorang maha pandita Pedanda Sakti Wau Rawuh tiba di Pulau ini dengan memberikan ceramah keagaamaan dan spiritualitas.
Pura Dalem Pingit Pegesangan
Tiba dipura ini sudah malam sehingga kita melakukan boga dulu baru melakukan persembahyangan dengan dipimpin oleh seorang Pendeta Suci Ida Pedande Gede Kerta, sekaligus memberikan wejangan / darma wacana kepada kita semua.
isi dari darmawacana beliau adalah ;
1. Merupakan hal pokok bagi para pemula yang belajar ilmu pengetahuan adalah menyebut aksara suci " Om, Ongkara Ya Namah Swaha" sebagi gegemet / bahasa suci agar beliau berkenan memberi ijin atas pengetahuan yang kita pelajari tersebut.
2. Menyembah Dewi Saraswati terlebih dahulu didalam belajar ilmu keagamaan.
3. Sistem Meditasi sederhana yaitu menghirup udara yang diyakini bersemayam dewa agni dan rangsukkanlah diseluruh tubuh, kemudian keluarkan dalam bentuk udara kotor yang menjadi sisa kekotoran dalam tubuh kita.
4. Adanya oknum pendeta yang masih belum bisa membedakan warna dan kasta serta penggaruhnya pada kelompok sosial masyarakat.
5. Hubungan yang ada perjalanan niskala dan ilmu pengetahuan keagaaman ( teologi) adalah pada korelasi panca maha buta yang ada pada dasar pembentukan manusia yang ada pada ilmu keagamaan dapat dirasakan dengan ilmu keadnyananan ( niskalagama ) dan penggaruhnya pada diri sendiri.
5. Konsentrasi pikiran pada waktu persembahyangan tidak ada hubungannya dengan karma yang kita rasakan pada kehidupan sehari hari ( suka duka lara pati ) karena ini memang harus terjadi pad kehidupan ini, tetapi sembahyang juga merupakan hal yang patut dilakukan sebagai proses hidup / kewajiban.
Selanjutnya kita melakukan pengobatan massal di Pura Dalem Pingit Pegesangan, sampai jam 12.00 terus persiapan mepamit pulang keBali, sampai dipadang bai tiba pulul 18.00 terus pulang kerumah masing - masing.
Astu Tat Astu, Awignam Astu Ya Nama Swaha...
Tuesday, September 8, 2009
SANDI TUHAN PADA MIMPI

Betulkah mimpi merupakan bahasa sandi dari Tuhan yang berkehendak untuk berkomunikasi dengan manusia? Jika demikian, apakah semua mimpi memiliki makna tertentu?
Banyak ragam pandangan orang mengenai mimpi. Ada yang mengatakan mimpi itu bunga tidur, mimpi dianggap sebagai harapan yang tidak kesampaian, bahkan ada yang beranggapan bahwa mimpi tidak memiliki arti. Ada pula yang menyatakan bahwa mimpi merupakan jalan utama atau jalan emas untuk memasuki dunia batin atau hati nurani kita.
Sejarah menemukan bahwa buku tafsir mimpi tertua telah ditulis tahun 1100 SM. Untungnya sebagian ilmuwan memiliki ketertarikan mengenai mimpi, sehingga antara lain berdiri Institut Carl Gustav Jung di Zurich, Swiss, yang mempelajari mimpi sehingga dapat dipahami secara ilmiah.
Menurut Wolfgang Bock, SJ, yang pernah belajar di Institut Jung tersebut, salah satu fungsi mimpi adalah mengangkat pikiran, khayalan,dan hasrat hati manusia yang dalam hidup sadar kurang diperhatikan. Karena itu, mimpi juga memiliki motif menyeimbangkan kondisi pribadi supaya kepribadian seseorang tidak tumbuh pincang.
"Suka atau tidak suka, mimpi itu mengingatkan Anda, supaya Anda mau melihat kebenaran. Kadang kebenaran itu ditayangkan dengan cara amat mengejutkan, supaya diperhatikan," tulis Bock dalam bukunya, Menafsir Mimpi, Bahasa Sandi Tuhan.
Mimpi juga menambah pengetahuan vital, agar kita dapat memperbaiki sikap terhadap seluruh kehidupan dan situasi nyata yang dihadapi, ungkap Bock lagi. Melalui mimpi, bawah sadar kita akan memainkan tugas membimbing dan merencanakan, guna memberi arah lebih baik kepada sikap dan pendirian pikiran alam sadar.
Alam pikiran sadar kita seringkali tidak mau atau tidak ingin memahami persoalan apa adanya. Namun, melalui mimpi, kemampuan kita untuk menipu diri dan berpura-pura akan dijungkir balikkan, sehingga kita dihadapkan pada keadaan yang sebenarnya.
Tepat apa yang dituliskan Pastor J. Darminta, Si, mimpi bisa mengungkapkan alam spriritual kita, kerinduan dan perjumpaan kita dengan Allah, alam kejiwaan kita dengan segala pergulatan-pergulatan hidup, serta peristiwa dan tindakan hidup kita sehari-hari.
Perlu dipahami, mimpi merupakan salah satu bentuk bahasa hidup, seperti halnya bahasa rasa, bahasa hati, bahasa budi, bahasa rohani, bahasa tubuh, dan sebagainya. Sejak zaman para nabi dulu mimpi telah diyakini sebagai salah satu cara Tuhan menyampai pesan.
Melalui mimpi, menurut Bock, Allah hendak bergaul dengan manusia dan menuangkan nilai-nilai baru, kekuatan, dan kasih sayang yang berlimpah ke dalam hati kita.
Perhatikan waktunya
Mengutip Darminta, SJ, ada tiga macam mimpi berdasarkan waktu menurut orang Jawa, yaitu:
1. Titi onyi (21.00-24.00).
Mimpi pada jam ini dapat dipahami tidak memiliki arti khusus, kecuali menunjuk pada pengaruh pengalaman hidup sebelum tidur. Biasanya isi mimpi berkaitan dengan peristiwa hidup yang terjadi sebelumnya atau sisa masalah ketika masih terjaga.
2. Gondo onyi (24.00-03.00).
Mimpi pada jam ini menunjuk pada kualitas kejiwaan kita dalam mengarungi kehidupan, menyingkapkan apa yang tersembunyi di dalam diri kita agar diketahui, diterima, diolah. Jika diketahui sebagai gangguan hendaknya segera dapat disingkirkan, namun jika dirasakan sebagai dukungan sebaiknya diterapkan dalam kehidupan.
3. Puspa tajam (03.00-06.00).
Mimpi pada jam ini diyakini mengungkapkan adanya keterlibatan Allah, dan kita ditantang untuk mengenal suara, ajakan, dan pesan kehadiran Allah.
Mendoakan mimpi
Karena mimpi merupakan bahasa simbol dari Tuhan, saran Wolfgang Bode, sebaiknya kita meresponnya secara tepat. Caranya:
* Buat judul.
Pilih kata-kata, biarkan judul itu muncul spontan. Bila perlu, tanya mimpi itu, "Judul mana yang kau inginkan?"
* Buat tema.
Catatlah teman pokok atau masalah utama yang muncul dalam mimpi Anda. Bila mimpi Anda memuat lebih dari satu tema, urutkan tema-tema itu menurut bobot yang Anda rasakan.
* Catat perasaan.
Perasaan manakah yang paling menonjol dan kuat dorongannya dalam mimpi itu? Jika ada beberapa perasaan yang muncul berturut-turut, catatlah semuanya.
* Panjatkan doa.
Bercakaplah dengan Tuhan mengenai teman dan perasaan Anda berkaitan dengan mimpi. Mintalah jawaban dari Tuhan mengenai makna dan pesan lewat mimpi tersebut.
* Kesempatan bersemadi.
Biarkan seluruh mimpi berikut tema, perasaan, dan orang-orang yang tampak di dalam mimpi berada bersama Anda. Pilih satu kata kunci dan resapkan melalui metode mantra (kata itu dihirup bersama helaan napas).
* Buat catatan.
Catatlah apa yang Anda alami selama menggumuli mimpi itu dalam suasana doa di hadapan Tuhan. Tuliskan cepat, tanpa menilai apa yang muncul. Anda dilatih terbuka pada pola baru dalam berpikir dan bertindak, sesuai apa yang muncul.
* Tinjau kembali.
Malam hari, baca dan tinjau kembali mimpi dan doa serta sahutan Anda terhadap mimpi itu. Perhatikan bagaimana semua itu membantu Anda menemukan makna dan petunjuk arah yang termuat dalam mimpi, supaya bisa memilih dan menjalankan pola hidup Anda.
Thursday, September 3, 2009
SANGHYANG TAPAK, , RAHASYA ILAHI

PAMIANGAN PANEMBAHAN SOENDA PADJADJARAN
PAKEUN BELA BAKTI KA BANGSA MWAH NAGARA INDONESIA
Sunda teh Wiwitan mudu jadi anggeuhan pamiangan, na purbatisti purbajati i sunda sembawa sunda mandala, ning cita ning samaya nu rek nurutan inya twah nu surup ka nusalarang, pakeun heubeul jaya dina buana, pakeun nanjer na juritan, tangtuna bela bakti ka Diri Sarimbit, Kaluarga, Rakyat, Bangsa i Bhumi Pretiwi mwah Nagara Indonesia, Undang-Undang Dasar 1945 dening purbatisti, Pancasila dening purbajati. Purbatisti purbajati, mana mo kadatangan ku musuh ganal musuh alit, suka kretatang lor kidul kulon wetan kena kretaras. Sing para dewata kabeh pada bakti ka Batara Seda Niskala. Pahi manggihkeun si tuhu lawan pretyaksa.
Pun Sampurna ingsun abdi kaulanun i bebrayan Panembahan Soenda Padjadjaran, seja mipit amit ngala menta, nyuhun widi restu pandamping para rumuhun nu tangtu na tuturus nali ngaragasukma lelembutan dumasar ku tangtu catur darya kelima paheut : Sir na ati, budi na watek, cipta na utek, rasa na adeg, ngajadi pangadegan; nu tangtu panyca pasagi: tekad na hate, ucap na cangkem, lampah na tapak, paripolah na laku, ngajadi diri; na tangtu panggih jirim jeung jisimna : raga badag boga utek gede, raga leutik boga utek leutik, sukma badag boga panca indra, sukma leutik boga indra genep, lelembutan boga na getih; na tangtu apal asalna jisim kandung indung, yuga bapa: raga na bali mwah tali ari indung, sukma na cai tuban mwah alam kandung indung, lelembutan na yuga bapa; tinangtu panggih sajatining diri na pakem purbatisti purbajati i sunda sembawa sunda mandala.
Inyana Kaulanun …. Ning Cita Ning Samaya … Shi Punten nu Kateda Empun nu Kasun, Seja :
- Sembah Sumujud ka Gusti Sanghyang Tunggal nu nyipta waruga jagat nu ngawasa kawasana buana pancer tengah sabuder awun mwah sedaya mahluk nu karsa dicipta;
- Babakti ka para Pangagung mwah Pangluhung nu ngawasa di kawasa kersana Gusti Sanghyang Widi ngalaksana pancen pamayung agung di buana pancer tengah bangsa mwah nagara;
- Bakti tumut ka indung bapa aki nini buyut bao nu ngawasa dikawasa kersana Gusti Sanghyang Widi. ngaragasukma lelembutan jirim sajisimna;
- Parasparo pasarpana atuntunan tangan silih asih pantara ning padudulur jeung papada ning cita ning samaya mahluk nu karsa dicipta kawasana Gusti Sanghyang Widi, nu napak nekonan ngalaksana pancen di buana pancer tengah, sabuder awun.
- Ngarawat ngarumat ngaraksa alam hirup kahirupan, hutasanapah bhayu akasha teja sanghyang mahoratra saddya, sa palantara buana pancer tengah sabuder awun kersana Gusti Sanghyang Widi.
INYANA KAULANUN ... NING CITA NING SAMAYA ….
SEJA MIPIT AMIT ALA MENTA KERSANING GUSTI HYANG TUNGGAL
NYUHUN WIDI RESTU DAMPING, PARA RUMUHUN NU NGARAGASUKMA LELEMBUTAN
INI SABDAKALANDARA RAKYAN JURU PANGAMBAT
I KAWIHAJI PANYCA PASAGI MARSA NDESHA
BARPULIHKAN HAJI SUNDA
KIDUNG LUHUNG TI KARUHUN,
SASAKA PUSAKA BUHUN,
HAYU URANG PADA SUHUN,
NGALAP DANGHYANG NU RUHUN,
NUTI KULON NUTI WETAN,
KALER KIDUL SEUG PAMITAN,
HAYU URANG MARUKA WIWITAN,
KIDUNG SUNDA NUR BUATAN…
INYANA KAULANUN ... NING CITA NING SAMAYA ….
NU REK NURUTAN INYA TWAH NU SURUP KA NUSALARANG,
PAKEUN HEUBEUL JAYA DINA BUANA, PAKEUN NANJER NA JURITAN,
SEJA NGALAKSANA PURBATISTI PURBAJATI
PARA PANGAGUNG MWAH PANGLUHUNG
I SUNDA SEMBAWA SUNDA MANDALA,
SEDAYA TEKAD UCAP LAMPAH PARIPOLAH DENING SALIRA
SEJA NGALAP DANGHYANG NU RUHUN, MARUKA SASAKA PUSAKA BUHUN,
PAKENA GAWE RAHAYU, PAKENA KRETA BENER,
BHAGYA BARI PAKENA BENER, PAKEUN NANJER NAJURITAN,
SALAMET NA KRETA TUHU, PAKEUN HEUBEUL JAYA DINA BUANA.
SEMBAH BABAKTOS KAPIHATUR PIHUNJUK PANJENENGAN
HYANG PRABU TARUSBAWA,
PURBATISTI PURBAJATI PAKEUN MARUKA WIWITAN SASAKA PUSAKA BUHUN
Sumpah denira Sri Maharaja Suryaman Sang Mahapurusa Bimaparakrama Hariwangsa Digwijaya Sunda Sembawa Prabu Tarumanagara ka tujuh, Sangkan Sunda Sembawa Maruka Wiwitan na Purbatisti Purbajati pakeun heubeul jaya dibuana, nanjeur na juritan, kreta na Sunda ngawasa ku trahna Sunda Sembawa. Tarumanagara sirna ing bhumi jawadwipa beh kulwan, jawadwipa beh kulwan kabeulah, nanjeur na juritan, kreta Galuh Pakuan dening Prabu Wretikandayun na puraraya Galuh Karang Kamulyaan ti citarum beh wetan, ning kreta Sunda Pakuan dening Prabu Tarusbawa na puraraya Sundapura Pandeglang, ti citarum beh kulwan.
“ini sabdakalandara rakyan juru pangambat
i kawihaji panyca pasagi marsa ndesha
barpulihkan haji sunda”
SEMBAH BABAKTOS KAPIHATUR PIHUNJUK PANJENENGAN
HYANG PRABU SANJAYA,
PURBATISTI PURBAJATI PAKEUN YUDDHENIPUNA MWAH BALADHIKA NING WADYABALA
Kreta Galuh Pakuan mwah kreta Sunda Pakuan, nyahiji ku polah Raden Sanjaya, ing putra Prabu Sena trah Galuh lawan Ratu Sanaha putri Bhumi Mataram, mantu Prabu Tarusbawa, ngangaranan maneh taraju jawadwipa, lian kreta Galuh Pakuan, kreta Sunda Pakuan, mwah kreta Bhumi Mataram, alabatan ngagunamake Pustaka RatuNing Bala Sariwu. Kaampuhan na yudhakala rebut kreta Galuh Pakuan na kadatwan wus dumadi ranasabha ingga purbasora pinenjahan dening Sanjaya yudhakala. 635 Saka.
Pustaka Ratuning Bala Sariwu tetenan susunsusun Resiguru Kendan dening Rajaputra Suraliman sang yuddhenipuna mwah sang baladhika ning wadyabala ing Tarumanagara. Bihari Pustaka Ratuning Bala Sariwu, dititip rawat rumat ngarsakeun dening Resiguru Rabuyut Sawal, Gunung Sawal Seda Sakti kiwari, ku titah dening Prabu Tarusbawa, ing Tarumanagara ngajadi Sunda Pakuan.
SEMBAH BABAKTOS KAPIHATUR PIHUNJUK PANJENENGAN
HYANG PRABU SRI JAYABHUPATI,
PURBATISTI PURBAJATI PAKEUN NGARAWAT NGARUMAT NGARAKSA SARAKAN
Sri Jayabhupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabuana mandaleswaranindita Harogowardana Wikramo tunggadewa, Prahajyan Sunda, Magaway tepek i purwa sanghyang tapak ginaway denira.
Sumpah denira prahajyan Sunda. Lwirnya nihan.
“ … indah ta kita kamung hyang hara agasti purbbadaksina paccima uttara agniya neriti …. tabayabya aicanya urddhadah rawi shashi patala jalapawana ….. hutasanapah bhayu akasha teja sanghyang mahoratra saddya …. Yaksa raksasa pishasha preta sura garuda graham kinara mahoraga catwana … lokapala yama baruna kuwera bashawa mwang putra dewata panca kucika ….. nandishwara mahakala dunggadewi ananta surindra anakta hyang kalamrtyu gana bhuta sang prasiddha milu manarira umasuki sarwwajanma ata regnyaken iking sapatha samaya …. Sumpah pamangmang ni lebu ni paduka haji i Sunda irikita kamung hyang kabeh … pakadya umapala ikan … i sanghyang tapak ya patyanantaya …. Kamung hyang dentat patiya siwak kapalanya cucup uteknya belah dadanya inum rahnya rantan ususnya wekasaken pranantika … i sanghyang kabeh tawat hana wwang baribari shila irikang lwah i sanghyang tapak apan iwak pakan prannahnya kapangguh i sanghyang …. Maneh ka liliran pakanya katake dlaha ning dlaha …. Paduka haji i sunda …. Umade maka kadarman … ing samangkana wekawet paduka haji i sunda sanggum nti ring kulit kata kamanah ing kanang … i sanghyang tapak makatepa lwah watesnya i hulu sanghyang tapak ….. i hilir mahingan irikan …. Umpi ing wungkal gde kalih … i wruhhanta kamung hyang kabeh ….
SEMBAH BABAKTOS KAPIHATUR PIHUNJUK PANJENENGAN
HYANG PRABU DHARMASIKSA
PURBATISTI PURBAJATI PAKEUN PARASPARO PASARPANA
ATUNTUNAN TANGAN SILIH ASIH PANTARA NING PADUDULUR
Prabu Guru Dharmasiksa Paramarta Sang Mahapurusa Sang Prabu Sanghyang Wisnu, Ratu Sunda Pakuan Galuh Pakuan ing puraraya i Saunggalah Kuningan lantas pindah ing puraraya i Pakuan Bogor. Nalika kasumpingan incu Rakeyang Wijaya Sang Kretarajasa Jayawardhana, Prabu kreta Majapahit ing puraraya i Wilwatika Jawadwipa beh Wetan trah Kreta Singasari mwah Kreta Kediri. pitutur sangkan di pikukuh di puraraya Pakuan.
Pitutur Prabu Dharmasiksa pakeun di Pikukuh Seuweu Siwi Seke Seler i Sunda
… Hawya ta sira kedo ethawamerep ngalindih Bhumi Sunda mapan wus kinaliliran ki sanak ira dlaha yan ngku wus angemasi …. Hetunya nagaramu wus agheng jaya santosa wruh ngwang kottaman ri puyut katisayan mwang jayashatrumu, ngke pinaka mahaprabhu … ika hana ta daksina sakeng Hyang Tunggal mwang dumadi sarataya. …. Ikang sayogyanya rajya jawa lawan rajya sunda parasparo pasarpana atuntunan tangan silih asih pantara ning padudulur … Yatanyan siddha hitasukha … Yan rajya sunda dukhantara ... Wilwatikta sakopayanya maweh sharana …. Mangkana juga rajya sunda ring wilwatikta….
SEMBAH BABAKTOS KAPIHATUR PIHUNJUK PANJENENGAN
HYANG PRABU LINGGABUANA
PURBATISTI PURBAJATI PAKEUN JATI TEU KASILIH KU JUNTI TAN KALINDIH
Prabu Linggabuana Sang Prabu Wangi …” Sang Prabhu maharaja sunda pejah ta sira haneng bubat i wilwatikta nagara irikang kala sang prabhu maharaja kahyun ngawarangaken anak ira ya ta sang Retna Citraresmi athawa Dyah Pitaloka lawan Bhre Prabhu Wilwatikta Shri Rajasanagara ngaran ira nihan ta mulatnya. Maksud ngahiji Sunda lawan Wilwatika, ku kahyun ngawarangaken Retna Citraresmi lawan Prabu Hayam Wuruk, gagal jadi maksud ku Patih Gajah Mada i Majapait.
Sumpah denira prahajyan Sunda. Palagan Bubat … tathapyan mangkana sundhabhumi tan kalindih dening rajya wilwatikta..
SEMBAH BABAKTOS KAPIHATUR PIHUNJUK PANJENENGAN
HYANG PRABU NISKALA WASTU KANCANA
PURBATISTI PURBAJATI PAKEUN ACARA, ADIGAMA, GURUGAMA,
TUHAGAMA, SATMATA, SURALOKA, NIRAWERAH
Prabu Niskala Wastu Kancana Sang Praburesi Buanatunggal Dewata, ing Putra Mahkota Prabu Linggabuana, kancana putra Prabu Bunisora Sang Satmata Prabu Guru Pangadiparamarta Jayadewabrata. Mahaprabhu Niskala Wastu Kancana, nu heubeul jaya di buana pancer tengah i Sunda. Sugan aya nu rek nurutan inya twah nu surup ka nusalarang. Pakeun heubeul jaya dina buana, pakeun nanjer na juritan. Apah, teja, bayu, akasa, bug e nyurup ka pitutur hyang prabhu buanatunggal.
Pitutur Prabu Niskala Wastu Kancana, pakena gawe rahayu, pakena kreta bener
…. Nihan tapa kawali nu siya mulia tapa bhagya Prabhu Raja Wastu mangadeg di kuta kawali nu mahayu na kadatuan surawisesa nu marigi sakuliling dayeuh nu najur sagala desa aya ma nu pandeuri pakena gawe rahhayu pakeun heubeul jaya dina buana…. Aya ma nu ngeusi bhagya bari pakena kereta bener pakeun nanjer na juritan.
SEMBAH BABAKTOS KAPIHATUR PIHUNJUK PANJENENGAN
SANGHYANG PRABU SILIWANGI SHRI BADUGA MAHARAJA
PURBATISTI PURBAJATI PAKEUN MANGGIHKEUN SI TUHU LAWAN PRETYAKSA
….. Hana pwanung mangadegakna Pakwan Padjadjaran lawan kedatwan Sang Bima Punta Narayana Madura Suradipati ya ta sang Tarusbawa…. Hana pwa putra nira Sang Prabhu Dewa Niskala, Sang Ratu Jayadewata gumantyakna ta manira dumadi raja Sunda lawan nama sidham Shri Baduga Maharaja ing Pakwan Pajajaran Shri Ratu Dewata. Rasita lungguh criman kadatwan nira makaran Shri Bima Punta Narayana Madura Suradipati …. Raja Pajajaran winastwan ngaran Prabhuguru Dewaprana muwah winastwan ngaran Shri Baduga Maharaja Ratuhaji ing Pakwan Pajajaran Shri Sang Ratu Dewata putra ning Rahyang Dewa Niskala. Rahyang Dewa Niskala putra ning Rahyang Niskala Wastu Kancana. Rahyang Niskala Wastu Kancana putra ning Prabhu Maharaja Linggabhuanawishesa…..
Pitutur Prabu Siliwangi Shri Baduga Maharaja,
pakeun Rahayu Bagja Salamet Jaya Tri Buana
…. Wang na pun ini sakakala, prebu ratu purane pun, diwastu diya wingaran prebu guru dewataprana diwastu diya dingaran shri baduga maharaja ratu haji di pakwan pajajaran shri sang ratu dewata pun ya nu nyusuk na pakwan diya anak rahyang dewa niskala sang sidamoka di gunatiga, incu rahyang niskala wastu kancana sang sidamoka ka nusa larang, ya siya nu nyiyan sakakala gugunungan ngabalau nyiyan samidam nyiyan sanghyang talaga rena mahawijaya, ya siya pun i saka, panca pandawa mban bumi.
…. Purbatisti purbajati, mana mo kadatangan ku musuh ganal musuh alit … suka kretatang lor kidul kulon wetan kena kretaras....Sing para dewata kabeh pada bakti ka Batara Seda Niskala…Pahi manggihkeun si tuhu lawan pretyaksa….
…… Pamugi Gusti Sanghyang Widi karunya ning cita ning samaya. Sih nuhun, inyana kaulanun bebrayan panembahan soenda padjadjaran. Rahayu – rahayu – rahayu.
…… Pamugi Gusti Sanghyang Widi karunya ning cita ning samaya. Sih nuhun, teda nu di seja ampun nu di pundut. Abdi kaulanan bebrayan panembahan soenda padjadjaran.
Rahayu – rahayu – rahayu.
Subscribe to:
Posts (Atom)