Friday, September 10, 2010

MAHA PATIH GAJAH MADA





Maha Patih Gajah Mada harus menerima nasibnya. Kebesarannya,
diakhir hayatnya hanya membuat ia diasingkan di
desa terpencil ini. Tak pernah jelas dalam asal
usulnya, jelas ia bukan raja yang perlu
dilegendakan riwayat kelahirannya.
Tapi yang pasti kemungkinan besar ia keturunan
keluarga bangsawan karena berhasil memasuki pasukan
Bhayangkara bahkan bisa menjadi pemimpinnya.
Sudah jamak saat itu, ketika pasukan elit hanya
bisa dimasuki oleh mereka yang berdarah biru pula.
Majapahit yang baru berdiri, dibawah Raden Wijaya, raja pertamanya,
sedang berusaha mengkonsolidasikan kekuatannya. Setelah Kediri dengan
Jayakatwangnya berhasil ditaklukkan, dan di sisi lain pasukan Mongolia
telahberhasil diusir pergi, maka negara baru itu segera bermimpi akan mencapai
kebesarannya setidaknya mencapai seperti Singosari, negara awalnya. Di
samping itu bukankah Raden Wijaya adalah keturunan resmi yang pertama
kali berhasil menjadi raja dari perkawinan Ken dedes dan Ken Arok, yang
dilegendakan akan menurunkan raja terbesar di Jawa? Semuanya sudah
tersedia, tinggal bagaimana raja baru itu memanfaatkan situasi.

Maka pembangunan kemiliteran adalah
salah satu jalan yang diplih untuk
memperkuat negara itu. Apalagi dalam
perjalanannya, negara yang baru
tumbuh itu, harus mengalami berbagai
macam pemberontakan, yang terutama
dari sahabat dekat sang raja sendiri,
seperti Ranggalawe, Lembu sora, ataupun
Nambi. Negara itu akan rapuh jika tak ada
yang siap beregenerasi. Maka
sekolah militer untuk perwira dimasa depan
disiapkan. Dan Gajah Mada adalah salah satu
produknya. Menghabiskan masa mudadalam pendidikan
kemiliteran, tak ada yang tahu kenapa ia bisa melesat tinggi karirnya.
Hanya satu hal yang ia tahu, kesempatan tak pernah datang dua kali.
Setelah Raden Wijaya wafat, Jayanegara naik sebagai raja. Sayang ia
lemah.
Maka ketidakpuasan pun muncul. Dan yang terhebat adalah pemberontakan
Kuti. Huru hara pun muncul di ibukota, yang menyebabkan Jayanegara harus
lari kesebuah desa hanya ditemani oleh pasukan elitnya yaitu
Bhayangkara (nama desanya lupa, kalau gak salah namanya Badeder),
yang tentu saja pimpinannya saat itu adalah Gajah Mada.

Gajah Mada yang cerdas ini segera menyusun siasat, untuk mengembalikan
tahta pada sang raja. Ia pergi ke ibukota, untuk melihat reaksi rakyat,
apakah Kuti didukung atau tidak. Ia tiupkan isu sang raja telah wafat.
Segera kesedihan mewarnai ibukota. Dan ia pun tahu, rakyat masih dibelakan
sang raja. Segera ia kumpulkan pasukan, cari dukungan dan kemudian
munculkan sang raja. Kuti yang tak berpikir ke sana akhirnya kalah
oleh kuatnya dukungan terhadap sang raja. Ia kalah cerdik oleh juniornya.
Tetapi setelah sang rajakembali berkuasa, tetap tak tak ada yang berubah.
Dan Gajah mada pun muak melihatnya. Negara ini akan hancur jika raja lemah.
Bagi Gajah mada,
kesetiaan bukanlah pada sang raja, tapi bagi negaranya. Ia segera menyusun
siasat. Ia tahu sang raja mata keranjang. Temannya Ra Tanca, tabib istana,
punya istri yang cantik. Oleh Gajah Mada, ia mengisyaratkan berita ini pada
sang raja. Raja yang penasaran itupun mencari tahu, dan setelah melihat
sendiri, ternyata jatuh hati pada istri Ra Tanca. Ra Tanca yang mengetahui
berita ini pun marah. Baginya sekarang cuma ada dua pilihan, membunuh
sang raja, atau ialah yang akan dibunuh. Pada waktu raja sakit, Gajah Mada
segera menyiapkan perangkapnya. Ia panggil Ra Tanca untuk mengobati
raja. Tapi ia tahu pula, hati Ra Tanca sudah terbakar amarah, dan pasti
akan memanfaatkan situasi ini. Benar saja Ra Tanca membunuh raja. Ada dua
versi, ada yang bilang membunuh dengan keris, versi lain dengan
meminumkan racun. Gajah Mada yang sudah memperkirakan hal ini, segera
bertindak seolah-olah ia kaget, dan segera menikam Ra Tanca, pembunuh
raja sekaligus melenyapkan bukti. Segera nama Gajah Mada semakin
menjulang ditengah duka ibukota. Dan istri Ra Tanca? Ah, janganlah berpikir
ini cerita romantis, bahwa Gajah Madalah yang mendapatkannya, sebab bagi
sejarah, nasib istri Ra Tanca tak penting lagi.

Dan Gajah Mada pun jadi pahlawan. Bagi sebagian orang yang juga tak
menyukai Jayanegara, tindakan Gajah mada tepat. Apalagi setelah
Jayanegara wafat, digantikan oleh Tribuana Tungga Dewi. Wanita yang nyaris
dijadikan istri oleh Jayanegara, walaupun ia merupakan saudara satu ayah
lain ibu Jayanegara. Dan Tribuana sendiri hanya sebagai raja pengganti,
menggantikan sang ibu Gayatri yang memilih menjadi Biksuni hingga Gayatri
wafat, sehingga Hayam Wuruk menjadi raja. Tapi disini, ada yang berubah.
Karir Gajah Mada meningkat. Setelah hanya menjadi bekel, kemudian naik
menjadi pimpinan pasukan pelindung raja, naik menjadi patih di daerah
Kediri(sebuah daerah protektorat), kemudian ia menjadi Mahapatih di
Majapahit dan secara de facto yang memegang kekuasaan tertinggi,
karena Hayam wuruk masih kecil. Dan disaat pengangkatnnya lah ia bersumpah
yang dikenal sebagai Amukti Palapa. Dan selanjutnya, hidupnya diabadikan
untuk mewujudkan sumpah itu.


Hayam wuruk yang masih kecil menyerahkan semua urusan negara pada
Gajah Mada. Dan kepercayaan itu dibalas dengan sempurna. Majapahit
segera menjadi yang terbesar. Kekuasaannya meluas, seperti yang diimpikan
oleh Gajah Mada. Bali, Tumasik, Maluku dan Campa menjadi wilayah
kekuasaannya. Kadang ia sendiri turun kemedan perang memimpin
pasukannya untuk menaklukkan. Hingga ketika kekuasaan meluas melebihi
yang pernah dikenal orang Jawa, ada satu titik yang tersisa, Sunda.

Negeri ini masih merdeka dan masalah pun dimulai. Hayam wuruk yang
beranjak dewasa, memerlukan pendamping, permaisuri yang sebanding.
Dibutuhkan yang tercantik, cerdas dan dari kerajaan yang besar pula. Hayam
wuruk menilai Dara petak dari Sunda, putri raja Galuh pantas menjadi
permaisurinya. Maka segera dikirimlah lamaran. Dan tentu saja Raja Galuh
gembira dengan lamaran ini. Hayam Wuruk adalah pria terpandang, tampan
dan sangat pantas menjadi menantunya. Dan segera urusan ini dipercepat,
dan berangkatlah Raja Galuh ke Majapahit, membawa rombongan kecil
dengan putrinya dan kemudian berhenti sejenak di desa Bubat, menunggu
jemputan dari Majapahit. Gajah Mada yang mewakili Hayam Wuruk
menjemput pengantin. Di desa Bubat mereka bertemu, untuk membicarakan
hal-hal yang menyangkut pernikahan. Tapi tragedi ini baru saja dimulai.
Gajah Mada memandang, ini adalah usaha pelengkapnya untuk
memasukkan Galuh dan seluruh Sunda yang kecil itu kedalam lingkaran
Majapahit. Sang putri, merupakan tanda upeti bagi Majapahit, sebagai
lambang kesetiaan dan nantinya akan dijadikan sebagai selir raja. Raja Galuh,
Sri Baduga tak meyukai ide itu. Baginya ini adalah pernikahan pihak yang
sederajat, sekufu, tak ada upeti dan sang putri harus menjadi permaisuri
Raja, bukan selir yang dianggap sebagai penghinaan. Kata setuju tak dapat
dicapai, dan amarah mulai menggelegak dan terjadilah pertempuran. Pasukan
Galuh yang kecil itu luluh lantak ditangan pasukan Gajah Mada dan sang raja
sendiri harus tewas. Sedang sang putri yang seharusnya akan berbahagia
akan menjadi pengantin, akhirnya bunuh diri karena menanggung kesedihan.
Dan Gajah Mada sendiri puas, cita-citanya tercapai, Nusantara telah bersatu
dibawah Majapahit.
Tapi Hayam Wuruk tak sependapat. Ia yang datang terlambat, sesuai
tradisipengantin waktu itu,
melihat pemandangan mengerikan. Calon istrinya
telah meninggal. Ia marah pada Gajah Mada,
tapi Gajah Mada adalah orang yang
sangat berjasa bagi negara. Dan tindakannya hanya
insting kenegaraan saja,
dan untuk kejayaan Majapahit. Tapi disini visi
mereka berbeda, dan tak
mungkin 2 orang yang berbeda visi bekerjasama.
Dan Gajah Mada sebagai orang Jawa mengerti hal itu,
ialah yang harus mundur. Tiba-tiba ia merasa
sudah tua, lelah sekali. Ia pergi, menanggalkan
semua kebesarannya.
Baginya sendiri tugasnya sudah selesai. Majapahit
sudah sebesar yang diimpikannya.
Ia memilih untuk menyepi, menghabiskan sisa hidupnya.
Oleh Hayam wuruk,
ia diberi sebuah desa kecil di dekat sungai
Brantas yang dibebaskan dari pajak
dan dinamakan desa Mada. Disinilah Gajah Mada menunggu takdirnya dan
menikmati kesepiannya. Dan ia tahu raja tak pernah berminat lagi bertemu
dengannya ketika sang raja mengelilingi Jawa dan sempat berada di dekat
desa Mada. Tapi Hayam wuruk tak bersedia singgah untuk bertemu mantan
Patih yang sudah tua itu. Sebuah pertanyaan tersisa, kesetiaan seperti apa
yang penting. Pada negara atau pada raja?

Thursday, September 9, 2010

HARI KEMAKMURAN ; Budha Cemeng



PEMBAHARUAN INSTALASI SPIRIT RSI MARKANDEYA ( ABAD I )

Ternyata instalasi spiritual yang terbangun di kawasan suci Besakih tidak sekedar tempat suci biasa bagi masyarakat hindu, dimana dominan untuk melakukan persembahyangan dan tirtayatra, bahkan menjadi tempat wisata yang menakjubkan.

Sangat sulit memang menemukan intisari kandungan inti relegius dari kawasan pura yang telah terbangun sampai saat ini, mungkin ada ratusan pelinggih yang terdiri dari Pura Inti Besukihan, Pusering Jagat, Penataran Tri Purusa,Catur Lawa, Pedarman dharma kawitan,serta masih banyak lagi pura yang belum disebutkan.
Menemukan Inti Spirit tersebut memerlukan sebuah kesiapan wawasan pikiran dimana pura ini dibangun karena maksud tertentu oleh para pendiri saat itu, tidak memaksakan diri untuk menganalisa ulang dengan pemikiran yang baru, apalagi hanya sekedar ikut -ikutan sebagai pewaris istilah ' mule keto '. Untuk itu perlu disadari bahwa para pendiri jaman itu hanya memikirkan bagaimana mewarisi sebuah idealisme dengan perkembangan waktu dan jaman yang berubah -ubah seperti jaman ini yaitu hanya bisa melakukan persembahyangan saja tanpa harus mengerti apa maksud dan pengetahuan apa yang terkandung didalam pura tersebut.

Kami dari Sanggar Padepokan Rasmi Sancaya mencoba memaksakan diri untuk mengerti dan membuka diri melihat inti dari spirit yang ada di masing - masing pura tersebut, sebagai langkah kami pada saat Buda Cemeng ( Wage Klawu )yaitu menelusuri instalasi spirit Ida Dukuh Sakti yang di kawasan Pura Besakih yaitu berawal dari :
Pura Bangun Sakti sebagai fundamen awal sebuah peradaban ( sosial, ekonomi, politik, budaya dan spiritualitas ), pada Buda Cemeng ini kami terfokus pada sebuah langkah awal penuntunan kekuatan Sri Sedana sebagai dasar agem - ageman kami sebagai fasilitas kehidupan yang yang tidak bisa epas dari dunia material ( berekonomi ), selanjutnya kami menguatkan energi di Pura Goa Raja terus mencatatkan diri di Pura Sri Sedana agar lebih bersemangat dengan spirit Ida Betara Sri Sedhana.
Selanjutnya kami membuat signal spirit kewirausahaan di Pura Manik Subandar yang kami tancapkan di Padepokan yang bertujuan spirit itu selalu terhubung dari padepokan dengan Betara Manik Subandar yang ada diseluruh semesta ini.

Terakhir kami berjanji dan berikrar di Pura Pemuput sebagai mahkota kehidupan, yaitu harta benda yang kami peroleh digunakan untuk memelihara alam sebagai rumah manusia beserta seluruh kehidupannya bersama Tumbuhan dan Hewan.

Sepanjang kami menelusuri dan persembahyangan itu diguyur hujan lebat, tetapi diakhir persembahyangan kami di Pura Pemuput hujan seketika hilang sampai kami kembali ke padepokan ( rahasya Sri Sedana ).

Itulah cara kami melakukan penjelajahan siritual di hari Kemakmuran Budha Cemeng tahun ini, semga tak terhalangi serta anugerah yang berlimpah pada Padepokan Kami.

Suksma dan Rahayu

Tuesday, September 7, 2010

TANAM PANCAR , KEBAT LAWANG TOPENG SAAT TUMPEK WAYANG



Sanggar Padepokan RasmiSancaya mencoba menanam pancar ulang serta ngebat lawang kembali warisan petopengan yang telah satu generasi hilang, namun atas asung waranugraha yang maha Taksu Semara Ratih kembali akan dikibarkan diawali pada saat Tumpek Wayang September Tahun 2010.

Sesungguhnya warisan dua (2 ) katung peragkat topeng dan perlengkapannya telah diambil alih oleh desa sebagai penerusnya, namun generasi penari topeng ( Sekehe Topeng Desa Adat Tohpati ) telah lama membaur atau tak kelihatan mahkotanya lagi.

ASAL USUL SENI TARI TOPENG.

Drama tari topeng adalah merupakan seni tari warisan budaya masyarakat Hindu
yang ada di Bali, yang terus berjalan dan berkembang, berubah sejalan dengan
perubahan nilai nilai artistik, sosial, dan kultural dari masyarakat Bali.
Kemampuannya beradaptasi dengan berbagai perubahan yang terjadi dalam
lingkungan masyarakat pendukungnya telah membuat drama tari topeng ini hingga
kini mendapat tempat yang cukup istimewa dihati masyarakat, khususnya Hindu
yang ada di Bali maupun orang bali yang ada diluar bali.
Kedepan masyarakat perlu tetap terbuka namun selektip dalam menerima berbagi
inovasi yang dilakukan oleh para seniman topeng dalam meresponse berbagai
perubahan yang terjadi disekitarnya. Hanya dengan sikap seperti ini, kita akan
memberikan kondisi yang kondusif bagi seni pertopengan kita agar tetap hidup
dan berfungsi dalam berbagai aspek kehidupan spiritual, Social, dan cultural
dari masyarakat kita.
Semoga warisan budaya adi luhung ini akan tetap hidup bagaikan sekuntum bungan
yang senantiasa menebar bau haarum semerbak dalam kehidupan seni dan budaya
bali sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

Sunday, August 29, 2010

TRI LUHUR , Dharma Suci Roh


Aliran Kebatinan Perjalanan Tri Luhur
Organisasi Perjalanan Tri Luhur didirikan oleh seorang sesepuh bernama Toeloes Partosoewirjo pada hari Senin wage (malam Selasa Kliwon), tanggal 1 Oktober 1956 di Balai Desa Kober Purwokerto. Perjalanan Tri Luhur dari kata Perjalanan yaitu gerak perbuatan atau laku manusia. Tri artinya badan Jasmani, gerak rasa sejati dan guru sejati, luhur adalah sifat ketiga perjalanan. Maksud dibentuknya wadah tersebut untuk menampung semua kegiatan yang tujuannya untuk kesempurnaan kehiduan manusia lahir dan batin.
Toeloes Partosoewirjo dilahirkan di desa Cangkerep Lor Purworejo, Jawa Tengah, pada tanggal 30 April 1924. Pada usia 12 tahun ia telah mendengar dan tertarik hal-hal yang berkaitan dengan Ketuhanan. Kemudian muncul gagasan bagaimana caranya untuk mendekatkan diri pribadinya dengan Tuhan. Atas dorongan itu maka timbullah tekad untuk mengetahui persoalan-persoalan Ketuhanan dan menumbuhkan keyakinan bahwa Tuhan mempunyai kuasa menciptakan alam semesta beserta isinya. Akhirnya pada malam Jumat Kliwon tanggal 23 Mei 1954 pada jam 01.00 sewaktu Beliau sedang duduk menghadap ke utara mohon kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa dengan sikap tenang, pasrah secara totalitas dan berkeyakinan yang mantap bahwa Tuhan itu Maha Pemurah dan Maha pengasih, beliau menerima wangsit dari Tuhan. Salah satu ajaran organisasi Perjalanan Tri Luhur, yaitu wewarah “janji 7” yang berupa perjanjian 7 pasal yang merupakan perjanjian manusia pada dirinya sendiri dengan disaksikan Tuhan Yang Mahakuasa dan Mahasuci. Hal ini merupakan tata moral dan pedoman laku lampah bagi setiap warga perjalanan Tri Luhur dalam menghayati Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Menurut ajaran Perjalanan Tri Luhur, Tuhan mempunyai kekuasaan untuk menciptakan dunia semesta beserta segala isinya, disamping itu Tuhan juga merupakan sumber hidup dari segala kehidupan yang secara terus menerus akan memelihara dan melestarikan dunia semesta ini. Dengan demikian, manusia wajib menyembah dan memohon kepada Nya. Ajaran tentang manusia dari organisasi Perjalanan Tri Luhur meliputi asal usul manusia, struktur manusia dan kehidupan setelah kematian.
Kegiatan Perjalanan Tri Luhur dalam melaksanakan kegiatan ritual,manembah kepada Tuhan meliputi :
1. Sesuci, yaitu membersihkan diri dari perbuatan yang sifatnya kotor, tercela dan dosa, kemudian mengenakan pakaian yang bersih dan sopan.
2. Pembukaan, yaitu duduk sinuku tunggal/menghadap ke utara pada lantai yang bersih atau beralas tikar. Menghadap ke utara terkandung maksud bahwa utara adalah atas, hal ini karena Tuhan adalah di atas segala-galanya.
3. Pengalaman Pribadi, pada intinya adalah melaksanakan Tri Dharma, yaitu :
a. Dharma Bhakti, tugas dan kewajiban manusia untuk melaksanakan bakti sosial dalam masyarakat;
b. Dharma Suci,tugas dan kewajiban terhadap sesama manusia yang bersifat mental spiritual
c. Dharma Suci, tugas dan kewajiban manusia (warga Perjalanan Tri Luhur) sebagai manusia ber Kertuhanan untuk mengamalkan tugas-tugas kesucian dalammelaksanakan perintah dan kehendak Tuhan yang Mahakuasa dan Yang Mahasuci.

Sunday, April 11, 2010

RASMISANCAYA UNTUK IDA BATARA DALEM







Kami dari Padepokan Sanggar Seni Budaya dan Sastra Rasmisancaya akan melakukan gelar ritual pada piodalan Ida Batara Dalem Desa Pekeraman Tohpati Bebandem Karangasem.
Mudah - mudahan ada karunia dan berkat sehingga kami dapat menyelenggarakan dengan sempurna .

Memulai dengan nunas tirta di taksu - taksu niskala :
1. Pura Penataran Gunung Anyar
2. Pura Telaga Liligundi
3. Pura Jati Komala
4. Pura Pucak Pakis Kandel
5. Pura Pesucian Bingin
6. Pure Sang Sega Pemajangan
7. Pura kayoan Atma Ujungseri
8. Pura Batur Ujungseri

PERGELARAN DRAMA CALONARANG CIWA BUDHA KALPA


CALONARANG >>>DIMENSI UMUM
Dramatari ritual magis yang melakonkan kisah-kisah yang berkaitan dengan ilmu sihir, ilmu hitam maupun ilmu putih, dikenal dengan Pangiwa / Pangleyakan dan Panengen. Lakon-lakon yang ditampilkan pada umumnya berakar dari cerita Calonarang, sebuah cerita semi sejarah dari zaman pemerintahan raja Airlangga di Kahuripan (Jawa timur) pada abad ke IX. Cerita lain yang juga sering ditampilkan dalam drama tari ini adalah cerita Basur, sebuah cerita rakyat yang amat populer dikalangan masyarakat Bali. Karena pada beberapa bagian dari pertunjukannya menampilkan adegan adu kekuatan dan kekebalan (memperagakan adegan kematian bangke-bangkean, menusuk rangda dengan senjata tajam secara bebas) maka Calonarang sering dianggap sebagai pertunjukan adu kekebalan (batin).

CALONARANG >>> DIMENSI PERGELARAN

Dalam perang besar ini Raja Airlangga mengikutkan Pasukan Khusus Balayuda Kediri dalam menghadapi Calonarang dan pasukan leaknya.

Para Pasukan Balayuda Kediri yang terpilih sebanyak dua ratus orang yang dipimpin oleh Ki Kebo Wirang dan Ki Lembu Tal. Semua pasukan ini akan mengawal dan membantu Empu Bharadah dalam menumpas kejahatan yang dilakukan oleh Calonarang dan antek-anteknya.

Segala sesuatu perlengkapan segera dipersiapkan seperti senjata tajam berupa tombak, keris, klewang, dan lain-lain. Demikian pula dengan berbagai sarana pelindung badan yang gaib sebagai sarana penolak atau penempur leak, sarana kekebalan, semuanya diturunkan dari tempatnya yang pingit atau tempat rahasia. Yang tidak kalah pentingnya adalah persiapan mengenai perbekalan makanan dan minuman yang diperlukan selama penyerangan.
http://gemistri.com/misteri/images/stories/misteri/rangda,%20ratu%20para%20leak.jpg
Ketika semua persiapan dianggap rampung, maka mereka pun istrirahat agar tenaga cukup kuat untuk penyerangan besok. Keesokan harinya perjalanan penyerangan dilakukan, pasukan khusus atau pasukan pilihan dari Kediri yang disebut dengan Pasukan Balayuda dalam penyerangan tersebut mengawal Empu Bharadah. Sedangkan di depan sebagai pemimpin pasukan dipercayakan kepada Ki Kebo Wirang didampingi Ki Lembu Tal.

Tidak diceritakan perjalanan mereka, akhirnya rombongan Empu Bharadah dan pasukan Kediri sampai di pesisir selatan Desa Lembah Wilis. Di sana rombongan tersebut berhenti sejenak untuk beristirahat dalam persiapan untuk menuju ke Desa Dirah. Semua pasukan kemudian menuju Setra Ganda Mayu yang berada di Wilayah Desa Girah.

Diceritakan kemudian Ibu Calonarang dirumahnya diiringi oleh para sisyanya semua melakukan penyucian diri dan mengayat atau memuja kehadapan Ida Betari mohon anugrah kesaktian. Mereka memusatkan pikiran dan memanunggalkan bayu atau tenaga, sabda atau suara, dan idep atau pikiran, memuja Ida Betari bersarana sekar manca warna atau bunga warna-warni, dengan disertai asep menyan majegau atau wangi-wangian yang dibakar yang asapnya membubung ke angkasa, seolah-olah menyampaikan niat Ibu Calonarang kehadapan Ida Betari.
http://www.parissweethome.com/bali/images/ratuLeak01.jpg
Semua pekakas dan sarana pengleakan diturunkan dari tempatnya yang pingit atau tempat rahasia, dan masing-masing menggunakannya. Di hadapan mereka juga digelar tetandingan jangkep atau sarana sesajen lengkap sesuai dengan keperluan. Calonarang kemudian mulai memejamkan mata dan memusatkan pikiran. Ia tampak berkomat-kamit mengucapkan mantra sakti memohon anugrah kesaktian dan kesidian kehadapan Hyang Maha Wisesa, dengan harapan Empu Bharadah dan Balayuda Kediri dapat dikalahkan.

Setelah beberapa saat melakukan konsentrasi, maka sampailah pada puncaknya. Raja pengiwa pun telah dibangkitkan dan merasuk ke dalam sukma. Kedigjayaan atau kewisesan telah turun dan masuk ke dalam jiwa raga. Calonarang kemudian bangkit dan berkata kepada semua sisyanya “para sisyaku semuanya, permohonan kita kehadapan Hyang Betari telah terkabulkan dan telah mencapai puncaknya. Kesaktian telah kita bangkitkan semuanya, dan telah merasuk ke dalam jiwa dan raga. Kini saatnya kita bertarung menghadapi Empu Bharadah dan Balayuda Kediri. Kita akan pertahankan harga diri kita. Mampuskan semua orang-orang Kediri yang datang ke sini menyerang. Demikian perintah Calonarang kepada seluruh sisyanya. Suaranya ketika itu telah berubah menjadi besar dan menggema, dan bukan merupakan suaranya yang biasa. Kemudian Calonarangpun tertawa ngakak, dan terdengar menakutkan.

Semua sisya Calonarang telah nyuti rupa atau berubah wujud dan siap menyerang. Ada wujud bojog atau monyet yang siap menggigit, ada kambing siap nyenggot atau menanduk, ada sapi dan kuda yang siap ngajet atau menendang, ada kain kasa atau kain putih panjang yang siap menggulung dan membakar, ada bade atau menara pengusungan mayat yang siap membakar, ada babi bertaring panjang yang siap ngelumbih atau membanting dengan kepala, ada awak belig atau badan licin yang mukanya seperti umah tabuan atau sarang tawon. Ada pula api bergulung-gulung yang siap membakar siapa saja yang menghadang. Semua pasukan leak kemudian keluar dari rumah Calonarang dalam rupa bola api beterbangan, kemudian menuju ke Setra Ganda Mayu tempat perjanjian pertempuran dengan Empu Bharadah dan pasukan Balayuda Kediri.
http://www.strangerinparadise.com/2000/0005/Ogoh-ogoh.jpg
Melihat pasukan leak dengan beraneka rupa datang, pasukan Kediri menjadi kaget dan was-was dan ada yang ketakutan. Semuanya bersiap-siap dan merapatkan diri. Demikian pula dengan Ki Kebo Wirang dan Ki Lembu Tal, mereka berdua sangat waspada serta selalu berada di dekat Empu Bharadah untuk mengawalnya.

Empu Bharadah tidak sedikitpun gentar melihat kawanan leak tersebut, bahkan semangat untuk bertempur semakin membara. Sambil juga Empu Bharadah mengucap mantra sakti Pasupati. Dilengkapi pula dengan sarana sesikepan, sesabukan, rerajahan kain, dan pripian tembaga wasa atau lempengan tembaga. Sangat ampuh mantra sakti Pasupati tersebut. Empu Bharadah membawa pusaka sakti berupa sebuah keris yang bernama Kris Jaga Satru.
dan ilmu leak itu pun ada tingkatannya gan:
1. Ilmu Leak Tingkat Bawah yaitu orang yang bisa ngeleak tersebut bisa merubah wujudnya menjadi binatang seperti monyet, anjing, ayam putih, kambing, babi betina (bangkung) dan lain – lain.

2. Ilmu Leak Tingkat Menengah yaitu orang yang bisa ngeleak pada tingkat ini sudah bisa merubah wujudnya menjadi Burung Garuda bisa terbang tinggi, paruh dan cakarnya berbisa, matanya bisa keluar api, juga bisa berubah wujud menjadi Jaka Tungul atau pohon enau tanpa daun yang batangnya bisa mengeluarkan api dan bau busuk yang beracun.

3. Ilmu Leak Tingkat Tinggi yaitu orang yang bisa ngeleak tingkat ini sudah bisa merubah wujudnya menjadi Bade yaitu berupa menara pengusungan jenasah bertingkat dua puluh satu atau tumpang selikur dalam bahasa Bali dan seluruh tubuh menara tersebut berisi api yang menjalar – jalar sehingga apa saja yang kena sasarannya bisa hangus menjadi abu.

Thursday, October 1, 2009

VIHARA BLAHBATUH STANA BUDHA





Harumnya bunga tak dapat melawan arah angin
Begitu pula harumnya kayu cendana
Tetapi harumnya kebajikan dapat melawan arah angin
Harumnya nama orang baik dapat menyebar ke segenap penjuru


Vihara adalah tempat ibadah yang harus dipelihara keagungannya, oleh karena itu umat Buddha melepas sendal atau sepatu bila akan memasuki ruang vihara khususnya di ruang tempat patung Sang Buddha ditempatkan untuk dipuja dan tempat pembabaran Dhamma (Dhammasala) sebagai tanda penghormatan akan keagungan itu.

Kita mengikuti kebaktian di vihara untuk kebaikan kita sendiri karena dengan demikian kita dapat membaca paritta, berdana, melaksanakan sila, mendengarkan pembabaran Dhamma yang kesemuanya merupakan perbuatan baik dan mendorong kita untuk menjadi orang baik.

Di altar terdapat beberapa macam barang yaitu :

* Patung Sang Buddha untuk mengingatkan umat Buddha akan Guru Agung mereka
* Lilin sebagai lambang penerangan yang diajarkan oleh Sang Buddha
* Dupa sebagai pengharum ruangan yang melambangkan keharuman nama seseorang
agung yang memancar ke seluruh penjuru
* Bunga yang indah sebagai penghormatan yang tulus kepada Sang Buddha dan
melambangkan bahwa segala sesuatu akan berubah sebagaimana bunga yang indah
itupun pada suatu saat akan layu
* Air sebagai lambang kesucian yang membersihkan noda-noda

Kami dari Asram Bundaram mengikuti kegiatan Agni Hotra di Vihara Blahbatuh ini atas prakarsa Pendeta Eka dan Bunda R.A.M .

semoga apa yang dikehendaki mendapatkan restu dari Sang Budha
Om Namo Budaya